
minahasaraya.com – Sebuah momentum bersejarah dalam pengembangan sidat tropis Indonesia terukir melalui pertemuan yang berlangsung di Restoran Pan & Flip, Manado Town Square (Mantos) 2, Kota Manado, Sulawesi Utara. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan awal untuk membentuk Pusat Riset Sidat Tomohon (Tomohon Eel Research Center), sebuah lembaga yang dirancang untuk menjadi pusat unggulan penelitian, konservasi, budidaya, pendidikan, dan pengembangan industri sidat tropis Indonesia.
Gagasan besar ini diprakarsai oleh Prof. Ir. Kawilarang W. A. Masengi, MSc., PhD., seorang Naval Architect lulusan Nagasaki University, Jepang, yang selama bertahun-tahun aktif dalam berbagai penelitian dan program pengembangan kelautan serta perikanan di Sulawesi Utara. Beliau juga dikenal sebagai salah satu pelopor penerapan teknologi Deep Sea Environmental DNA (Deep Sea eDNA) di Indonesia sejak tahun 2018, yaitu teknologi mutakhir yang digunakan untuk mengungkap keberadaan organisme laut melalui analisis DNA yang terdapat di lingkungan perairan.
Dalam pemaparannya, Prof. Kawilarang menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pusat pengembangan sidat dunia. Dari sekitar 22 spesies sidat (Anguilla spp.) yang telah dikenal di dunia, sebanyak 12 spesies ditemukan di perairan Indonesia. Sulawesi sendiri menjadi habitat bagi sedikitnya delapan spesies, sementara lima spesies tercatat terdapat di perairan Sulawesi Utara, yaitu Anguilla celebesensis, Anguilla marmorata, Anguilla bicolor bicolor, Anguilla bicolor pacifica, dan Anguilla borneensis. Kekayaan biodiversitas tersebut merupakan aset strategis yang perlu dikelola secara ilmiah, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat serta mendukung ketahanan pangan nasional.
Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah akademisi dan praktisi yang memiliki kompetensi tinggi di bidangnya masing-masing. Salah satunya adalah Prof. Dr. Ir. Jeffry Mokolensang, MSc., lulusan Kagoshima University, Jepang, yang dikenal sebagai pakar nutrisi dan pakan ikan. Selama karier akademiknya, beliau telah menghasilkan berbagai penelitian mengenai formulasi pakan dan teknologi budidaya perikanan. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat pengembangan teknologi pakan sidat yang efisien, ekonomis, dan berkelanjutan, mengingat biaya pakan merupakan salah satu komponen terbesar dalam usaha budidaya sidat modern (NRC, 2011; FAO, 2022).
Turut hadir pula Prof. Dr. Eng. Ir. Lusia Manu, MSc., IPU., ASEAN Eng., lulusan Kumamoto University, Jepang, yang dikenal luas sebagai pakar oseanografi dan lingkungan budidaya tropis. Dalam diskusi tersebut, beliau menekankan pentingnya pengelolaan kualitas lingkungan perairan sebagai faktor kunci keberhasilan budidaya sidat. Menurutnya, keberhasilan produksi sidat tidak hanya ditentukan oleh teknologi budidaya, tetapi juga oleh pemahaman mendalam terhadap dinamika ekosistem tropis, kualitas air, produktivitas perairan, dan keberlanjutan habitat alami yang menjadi bagian dari siklus hidup sidat (Boyd & Tucker, 2012; Arai, 2016).
Perspektif genetika dan konservasi sumber daya sidat disampaikan oleh Ixchel Feibie Mandagi, SPi., MSi., PhD., pakar genetika populasi dan biogeografi perikanan yang saat ini berkiprah di Tropical Biosphere Research Center, University of the Ryukyus, Okinawa, Jepang. Beliau menegaskan bahwa Indonesia memiliki keragaman genetik sidat yang sangat tinggi dan bernilai penting secara global. Oleh karena itu, diperlukan inventarisasi, pemetaan populasi, serta program konservasi berbasis ilmu pengetahuan untuk memastikan keberlanjutan sumber daya tersebut. Pendekatan genetika populasi akan menjadi fondasi penting dalam pengelolaan stok sidat yang berkelanjutan dan pengembangan budidaya yang tidak mengurangi keragaman genetik alami (Watanabe et al., 2009; Minegishi et al., 2012).
Dukungan dunia usaha diwujudkan melalui kehadiran Jimmy Cumbertu, pemilik PT. Hakato Arta Industri sekaligus praktisi di bidang Information and Communication Technology (ICT). Sebagai investor, beliau menyatakan komitmennya untuk mendukung pembangunan sarana dan prasarana yang diperlukan bagi pengembangan Pusat Riset Sidat di Kelurahan Kinilow, Kota Tomohon. Menurutnya, sinergi antara penelitian, investasi, inovasi teknologi, dan pengembangan industri merupakan kunci utama dalam membangun ekosistem sidat yang mampu bersaing di pasar internasional. Pengembangan sidat harus dipandang bukan sekadar kegiatan perikanan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi strategis yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara (World Bank, 2017; FAO, 2023).
Pertemuan tersebut juga mendapat perhatian media melalui kehadiran Filip Kapantow dari Harian Manado Post. Keterlibatan media dinilai sangat penting dalam menyebarluaskan informasi kepada masyarakat mengenai potensi sidat sebagai komoditas unggulan daerah. Selain itu, media memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik mengenai pentingnya konservasi sumber daya perikanan dan pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan (UNESCO, 2021).
Setelah melalui diskusi yang konstruktif dan pertukaran gagasan yang mendalam, seluruh peserta sepakat bahwa Kelurahan Kinilow, Kota Tomohon, merupakan lokasi yang sangat potensial untuk pengembangan pusat riset sidat di Sulawesi Utara. Selain memiliki kondisi lingkungan yang mendukung, wilayah ini juga dikenal sebagai kawasan yang sejuk, memiliki sumber air berkualitas tinggi, serta dekat dengan pusat pendidikan dan penelitian.
Menariknya, lokasi tersebut sebelumnya telah mendapat perhatian dari sejumlah ilmuwan Jepang. Prof. Goro Yoshizaki dari Tokyo University of Marine Science and Technology, yang dikenal sebagai pakar pemuliaan ikan dan teknologi reproduksi, serta Prof. Dr. Yutaka Takeuchi dari Kanazawa University, telah melakukan kajian awal terhadap kualitas air, suhu lingkungan, serta ketersediaan sumber pakan alami di kawasan tersebut. Hasil pengamatan mereka menunjukkan bahwa wilayah Kinilow memiliki karakteristik lingkungan yang sangat sesuai untuk pengembangan budidaya sidat (Anguilla spp.) maupun ikan salmon air tawar (Freshwater Trout Salmon), sehingga berpotensi menjadi kawasan budidaya ikan bernilai ekonomi tinggi di masa depan.
Dalam pertemuan tersebut juga lahir gagasan besar untuk menjadikan Kelurahan Kinilow sebagai inti kawasan pengembangan dan Kota Tomohon sebagai “Kota Sidat Indonesia”. Konsep ini terinspirasi dari berbagai kota di Jepang yang berhasil membangun identitas daerah berdasarkan komoditas unggulan lokal. Namun demikian, konsep Tomohon Kota Sidat akan dikembangkan dengan pendekatan yang lebih komprehensif, yakni mengintegrasikan penelitian, konservasi, pendidikan, industri, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem pembangunan yang berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, akan dibentuk tim persiapan yang bertugas menyusun roadmap pengembangan Pusat Riset Sidat Tomohon untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Roadmap tersebut mencakup pembangunan laboratorium riset modern, pengembangan hatchery sidat tropis, pembentukan bank data genetika sidat Indonesia, pembangunan Museum Sidat Indonesia, penyelenggaraan program pendidikan dan pelatihan, serta penguatan jaringan kerja sama internasional dengan berbagai universitas, lembaga penelitian, dan industri sidat dunia.
Kesepakatan yang dicapai di Restoran Pan & Flip Manado Town Square 2 ini diharapkan menjadi tonggak awal lahirnya pusat unggulan sidat tropis Indonesia yang mampu berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi biodiversitas, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Apabila seluruh rencana tersebut dapat diwujudkan, maka Tomohon berpotensi berkembang menjadi salah satu pusat penelitian, konservasi, dan pengembangan industri sidat tropis terkemuka di kawasan Asia-Pasifik, sekaligus menjadi simbol keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan kekayaan biodiversitasnya secara berkelanjutan untuk kemajuan bangsa.