Gambar : Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo
minahasaraya.com – Ada beberapa alasan sehingga Begawan Ekonomi Indonesia Prof Soemitro Djojohadikusumo, sangat layak mendapat penghargaan negara melalui pengusulan gelar pahlawan nasional.
“Kami menilai Prof Sumitro Djojohadikusumo, layak diusulkan sebagai pahlawan nasional karena perannya yang sangat besar dalam membangun fondasi perekonomian Indonesia pasca kemerdekaan,” kata Ketua Umum Majelis Keluarga Besar Permesta (MKBP) Philip P. Pantouw, kepada minahasaraya, Rabu, 27 Mei 2026.
Menurut Philip, poin yang pertama, Prof Soemitro Djojohadikusumo adalah arsitek utama ekonomi modern Indonesia yang berjasa besar dalam menyehatkan ekonomi pascakemerdekaan.
Selain itu, beliau berjasa memberdayakan pengusaha pribumi melalui program Benteng di tahun 1950-an, sekaligus merancang fondasi pembangunan jangka panjang yang memadukan pertumbuhan ekonomi dengan penguasaan teknologi serta kemandirian nasional.
Lanjut Philip, sebagai penggagas program ekonomi Benteng, Prof Soemitro waktu itu menjadi arsitek kebijakan yang krusial untuk melindungi dan memberikan insentif modal kepada pengusaha pribumi agar mampu bersaing dengan pengusaha asing pada era 1950-an.
Beberapa poin lain, Prof Soemitro selain arsitek pembangunan ekonomi makro, beliau sukses menurunkan inflasi yang tinggi pada awal masa Orde Baru dan meletakkan fondasi kestabilan finansial.
“Sebagai Menteri Riset di era awal Orde Baru, beliau (Prof Soemitro) memimpin penyusunan rencana pembangunan nasional bertahap yang menjadi cetak biru pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi Indonesia,” tambahnya.
Beberapa perjuangan beliau dibidang ekonomi sehingga konsep beliau disebut Soemitronomics, suatu konsep yang berakar pada ekonomi kerakyatan, bahwa negara harus hadir ditengah masyarakat.
“Dan Prof Sumitro sejak awal telah mendorong pembangunan industri nasional, penguatan perbankan, pengembangan tenaga ahli, dan transformasi ekonomi dari agraris menuju industri modern,” jelas Philip.
“Beliau juga tampil sebagai pelopor pembangunan industri dasar, pemanfaatan riset teknologi, serta menekankan hilirisasi sumber daya alam,” ujarnya.
“Sehingga menurut hemat saya Prof Sumitro merupakan begawan ekonomi Indonesia yang pemikirannya jauh melampaui zamannya,” kata Philip.
Ia mengatakan, Prof Sumitro adalah sosok visioner. Beliau doktor ekonomi pertama Asia. Beliau menempuh pendidikan tingginya di Belanda pada tahun 1935 di Nederlandse Economische Hogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi Belanda), yang saat ini lebih dikenal dengan nama Erasmus University Rotterdam. Di sana beliau mengambil studi di bidang ekonomi.
“Di saat para pemimpin Asia masih memikirkan militer dan politik pasca merdeka, Prof Sumitro sudah memikirkan industrialisasi, investasi, dan pembangunan ekonomi modern ketika Indonesia baru merdeka. Sayangnya pemikiran beliau sering berbenturan dengan situasi politik dan ideologi pemerintahan saat itu,” ungkap Philip.
Menurutnya, sejarah kemudian membuktikan bahwa gagasan ekonomi Prof Sumitro justru menjadi salah satu kunci kemajuan bangsa-bangsa Asia.
“Bahkan kalau kita lihat, sekitar 20 tahun kemudian pemikiran ekonomi Prof Sumitro banyak diterapkan oleh Deng Xiaoping di China melalui kebijakan ekonomi terbuka dan liberalisasi ekonomi. Hasilnya China bisa maju sangat pesat,” katanya.
Philip Pantouw menjelaskan terdapat sejumlah kesamaan menarik antara pemikiran ekonomi Prof Sumitro pada era 1950-an dengan kebijakan pembangunan Deng Xiaoping di China sejak akhir 1970-an.
Keduanya, kata Pantouw, sama-sama berpandangan bahwa negara yang baru bangkit tidak bisa hanya mengandalkan politik atau ideologi semata, tetapi harus membangun kekuatan ekonomi nasional secara nyata.
“Prof Sumitro percaya Indonesia tidak cukup hanya merdeka secara politik, tetapi juga harus mandiri secara ekonomi. Kemudian dilakukan Deng Xiaoping setelah China keluar dari masa Revolusi Kebudayaan. Deng menilai kemajuan negara harus diukur dari kesejahteraan rakyat dan kekuatan ekonomi, bukan sekadar slogan ideologi,” jelasnya.
“Keduanya memiliki pandangan yang sama bahwa negara kuat lahir dari ekonomi yang kuat,” tambah Pantouw.
Ia juga menilai Prof Sumitro dan Deng Xiaoping sama-sama memiliki pendekatan pragmatis dalam pembangunan ekonomi. Prof Sumitro membuka ruang investasi asing, kerja sama internasional, serta penggunaan ilmu ekonomi modern untuk mempercepat pembangunan nasional.
Sementara Deng Xiaoping terkenal dengan prinsip pragmatisnya, yakni “tidak penting kucing hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.”
“Artinya ideologi tidak boleh menghambat kemajuan ekonomi. Selama kebijakan bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka itu layak diterapkan,” katanya.
Selain itu, keduanya juga sama-sama percaya pada pentingnya industrialisasi sebagai jalan keluar dari kemiskinan. (*/hvs)