Perhimpunan Minahasa Raya

Jemmy Mokolensang: Kenaikan Dolar AS Bukan Rekayasa Asing

Gambar : Praktisi Hukum, Jemmy Mokolensang, SH (Kiri), dan Mata Uang Dolar Amerika (Kanan)/Kolase: Minahasaraya.


minahasaraya.com – Praktisi Hukum Jemmy Mokolensang SH, menegaskan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) bukan merupakan rekayasa pihak tertentu atau rekayasa pihak asing, namun kenaikan dolar AS lebih disebabkan karena melambungnya harga minyak dunia, blokade selat Hormuz dan efek sejak terjadinya perang Amerika-Israel melawan Iran.

“Jadi melemahnya rupiah terhadap dolar AS bukan rekayasa pihak asing atau kelompok tertentu yang ingin menjatuhkan pemerintahan Indonesia saat ini, tapi lebih disebabkan masih adanya kekuatiran investor global tentang belum adanya kepastian perdamaian di Timur Tengah,” kata Jemmy Mokolensang yang juga Advokat senior, di Jakarta, Rabu, 27 Mei 2026.

Jemmy menegaskan, tidak ada rekayasa naiknya nilai dolar Amerika saat ini, yang pada Rabu 27 Mei 2026 di posisi Rp17.800 lebih per dolar AS. “Saya kira seluruh dunia merasakan, bukan hanya di Indonesia, tapi dibeberapa negara di Asia juga dan negara di Timur Tengah kena dampaknya,” tambahnya.

Lanjut Jemmy, mata uang negara lain juga jatuh terhadap dolar Amerika, seperti Peso Filipina, Dong Vietnam, dan Ringgit Malaysia terjadi penurunan nilainya terhadap Dolar Amerika.

“Jadi tak benar ada rekayasa, melainkan ini murni akibat tekanan dan pengaruh global, sejak adanya perang Amerika-Israel dan Iran,” ujar Jemmy.

Sementara Mantan Rektor Insitut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII-Kwik Kian Gie) Anthony Budiawan, menegaskan intervensi Bank Indonesia (BI) untuk menguatkan rupiah saat ini belum mampu membendung kenaikan dolar AS. Bahkan Ia prediksi nilai tukar dolar terhadap rupiah bisa tembus hingga Rp20.000 per dolar AS.

Salah satu alasan juga kenaikan dolar, karena umumnya tansaksi minyak menggunakan dolar Amerika ditengah kesulitan mendapatkan minyak, belum lagi para investor global banyak memborong dolar AS karena suku bunga tinggi yang terapkan bank federal Amerika, serta negara yang akan bayar utang menggunakan dolar. (hvs)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *