Perhimpunan Minahasa Raya

Willy Rawung Menyusul Philip Pantouw Keluar dari Anggota Dewan Penasihat K3

Foto: Willy Rawung

minahasaraya.com – Menyusul Philip Pantouw, Tokoh Kawanua lain yang juga Mantan Ketua Front Permesta Jakarta, Willy Rawung, menyatakan tidak bersedia untuk menjadi Anggota Dewan Penasihat dalam kepengurusan Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) Periode 2025-2030 dibawah Ketua Umum Angelica Tengker.

Pernyataan Willy Rawung yang tak bersedia menjadi Anggota Dewan Penasihat K3 ini disampaikan kepada minahasaraya.com, di Jakarta, Senin (4/8/2025).

Alasan Willy Rawung tak bersedia masuk dalam kepengurusan K3, karena selain visi dan misi K3 saat ini yang tidak sehebat visi misi K3 sebelum-sebelumnya, juga pada saat namanya dicantumkan sebagai Anggota Dewan Penasihat tidak diberitahukan dan dikonfirmasi terhadap dirinya.

“Saya akan menyusul Pak Philip Pantouw untuk mundur dari Anggota Dewan Penasihat K3, ini adalah hak kami untuk mundur dan belum bersedia masuk sebagai Anggota Dewan Penasihat,” cetus Willy Rawung, Mantan Ketua Umum DPP Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI) ini.

Sebelumnya Tokoh Kawanua lain yang juga Ketua Umum Majelis Keluarga Besar Permesta Philip Pantouw, telah menyatakan mundur dari Anggota Dewan Penasihat K3 Periode 2025-2030. Philip menyatakan tidak bersedia menjadi Anggota Dewan Penasihat K3 yang telah dilantik dan dikukuhkan di Balai Sarbini Jakarta, Jumat 1 Agustus 2025.

Mengenai alasan Philip Pantouw tidak bersedianya masuk dalam kepengurusan K3 Periode 2025-2030, karena sama seperti Willy Rawung, pada saat dimasukkannya namanya sebagai Anggota Dewan Penasihat tidak dikonfirmasi terlebih dahulu.

Tokoh Kawanua yang juga Pengurus Majelis Keluarga Besar Permesta, Dolfi Kotambunan, beberapa hari lalu, menyatakan dibeberapa media sosial, bahwa Philip Pantouw tidak mau namanya dimasukkan sebagai anggota penasehat K3, karena visi misi KKK sudah tidak sesuai dengan aslinya.

Kata Dolfi, sikap Philip Pantouw harus dihormati yang merupakan haknya sebagai individu yang memiliki pengalaman luas dalam berorganisasi, khususnya dalam organisasi sosial politik.

“Dengan pengalaman yang beliau miliki, beliau dapat melihat bahwa K3 telah mengalami perubahan yang signifikan dari tujuan awalnya, sehingga tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip yang beliau anut,” ujar Dolfi.

“Pak Philip Pantouw mungkin memiliki alasan yang kuat untuk tidak ingin terlibat dalam K3, mengingat pengalaman dan pengetahuannya tentang bagaimana organisasi sosial politik seharusnya berfungsi. Beliau mungkin merasa bahwa K3 telah kehilangan arah dan tujuan aslinya, sehingga tidak lagi sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat yang seharusnya menjadi prioritas utamanya. Oleh karena itu, beliau tidak ingin namanya dikaitkan dengan organisasi yang tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip yang beliau anut,” tambahnya.

Sebagai pengamat, menurut Dolfi, Philip Pantouw juga mungkin telah melihat bahwa K3 jarang memperhatikan kampung halaman yang umumnya berasal dari Minahasa, berarti bahwa organisasi ini tidak lagi peduli dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat yang seharusnya menjadi prioritas utamanya. Hal ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa beliau tidak ingin terlibat dalam K3. Beliau mungkin merasa bahwa KKK telah gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menjelaskan, dalam konteks ini, keputusan Philip Pantouw untuk tidak terlibat dalam KKK dapat dipandang sebagai langkah yang tepat untuk menjaga integritas dan nilai-nilai yang beliau anut. Beliau mungkin lebih memilih untuk fokus pada kegiatan lain yang lebih sesuai dengan visi dan misinya, serta lebih berdampak positif bagi masyarakat. Dengan demikian, beliau dapat mempertahankan reputasinya sebagai individu yang memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai dan prinsip yang beliau anut.

“Perlu diingat juga bahwa keputusan Pak Philip Pantouw juga dapat memiliki dampak pada K3 dan masyarakat yang terkait dengan organisasi ini. Oleh karena itu, penting bagi K3 untuk melakukan evaluasi dan refleksi tentang visi dan misinya, serta bagaimana mereka dapat meningkatkan kualitas dan dampak kegiatan mereka bagi masyarakat. Dengan demikian, K3 dapat memperbaiki diri dan meningkatkan kualitasnya sebagai organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Selain itu dijelaskan, saat ini beliau (Philip Pantouw) memiliki kesibukan baru sebagai Ketua Umum Majelis Keluarga Besar Permesta, yang sedang menjalani program penanaman padi ladang oleh para petani di Minahasa untuk membantu program pemerintahan Prabowo dibidang ketahanan pangan. Organisasi telah di deklarasikan oleh para pejuang dan pelaku Permesta yang masih hidup di hotel Four Points Manado. Deklarasi ini dihadiri oleh sekitar 400 orang lebih dan menandai babak baru dalam perjalanan Philip Pantouw dalam berorganisasi. “Dengan pengalaman dan pengetahuan yang beliau (Philio Pantouw) miliki, beliau mungkin dapat membawa Majelis Keluarga Besar Permesta ke arah yang lebih positif dan berdampak bagi masyarakat,” tambahnya. (hvs)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *