Foto: Philip Pantouw Saat Gelar Diskusi Dengan Para Pakar Pertanian Universitas Sam Ratulangi
minahasaraya.com – Satu lagi ide brilian dan terobosan Ketua Umum Majelis Keluarga Besar Permesta, Philip Pantouw, sebagai solusi mengurangi ketergantungan impor gandum dan kedelai, dalam rangka program ketahanan pangan pemerintahan Prabowo Subianto.
Untuk memulai ini, Philip mengusulkan Sulawesi Utara bisa dijadikan sebagai daerah pilot project nasional untuk menanam gandum, untuk menuju ketahanan pangan nasional. Alasannya, gandum dan kedelai masih menempatkan Indonesia sebagai impor terbesar ke empat.
Demikian pemaparan Philip dihadapan para guru besar, akademisi dan ahli pertanian Universitas Sam Ratulangi, di Manado, belum lama ini. Para akademisi dan guru besar Unsrat dari Fakultas Pertanian yang hadir antara lain Prof Jeany Mandang, Prof Bobby Polii, dan Prof Wenny Tilaar.
Philip Pantouw dalam pemaparan awal, menjelaskan bahwa Sulut harus jadi percontohan, adalah bentuk dukungan langsung terhadap program besar Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan pangan strategis.
“Sulut harus ambil bagian sebagai daerah pionir. Kita punya potensi lahan, SDM, dan semangat masyarakat untuk menjadikan daerah ini sebagai sentra produksi kedelai dan gandum,” ujar Philip.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2022, impor kedelai Indonesia mencapai 2,32 juta ton dengan nilai lebih dari USD 1,1 miliar. Sedangkan Impor gandum mencapai angka 9,35 juta ton, yang digunakan untuk industri makanan, roti, dan pakan ternak.
“Kita impor 80 persen kebutuhan kedelai dan gandum. Padahal kita punya tanah yang bisa ditanami dan rakyat yang siap bekerja. Ini momentum untuk berubah,” harap Philip.
Untuk itu, guna merangsang daerah lain, maka Philip mengharapkan Sulut bisa menjadi daerah percontohan menanam gandum. Sebab kata Philip, Sulut memiliki berbagai keunggulan yang memungkinkan daerah ini menjadi pusat produksi kedelai dan gandum nasional, antara lain, mempunyai iklim dan tanah yang cocok untuk pertanian komoditas pangan, memiliki ketersediaan lahan pertanian yang luas, serta dukungan sosial budaya masyarakat terhadap pertanian.
“Kalau kita serius dan daerah lain serius, jangankan ketahanan pangan, kita juga bisa mendorong mewujudkan swasembada pangan, bahkan bisa ekspor kedelai dan gandum. Ini waktunya Sulut ambil peran strategis dalam pembangunan nasional,” ungkap Pengusaha sukses ini. (*/hvs)