Memahami ‘Kejayaan Minahasa’: Dasar dan Contoh Konkret serta makna Minahasa
Jakarta, 11 Juni 2025 – Berkenaan dengan persiapan deklarasi Perhimpunan Minahasa Raya yang akan segera dilaksanakan di Jakarta dan selanjutnya juga akan di rangkai dengan konsolidasi di beberapa daerah seperti yang sudah beritakan beberapa waktu lalu, ada beberapa pertanyaan mendasar dari beberapa pihak yang secara wajar menanyakan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan “membangun kembali kejayaan Minahasa” dan apakah ada dasar konkret bahwa Minahasa pernah Berjaya.? serta apa pengertian dari Minahasa.
Pertanyaan ini sangat relevan dan mendasar. Maka secara sederhana dapat di jelaskan bahwa “Kejayaan Minahasa” di sini mengacu pada beberapa periode dan aspek historis yang menunjukkan keunggulan, kemandirian, semangat juang, serta kontribusi signifikan masyarakat Minahasa terhadap Indonesia dan bahkan dunia.
Dasar Historis Kejayaan Minahasa:
• Semangat Perlawanan dan Kemerdekaan: Sejarah mencatat bahwa masyarakat Minahasa memiliki semangat perlawanan yang gigih terhadap penjajah. Mereka dikenal sebagai salah satu kelompok etnis yang paling awal dan paling konsisten menentang kolonialisme, baik Spanyol, Portugis, maupun Belanda. Perjanjian damai dengan VOC pada tahun 1679 adalah bukti pengakuan VOC atas kekuatan dan kemandirian Minahasa pada masa itu, di mana Minahasa tidak ditaklukkan melainkan menjalin aliansi.
• Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang Unggul: Sejak masa kolonial, Minahasa dikenal memiliki tingkat pendidikan yang relatif tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia. Hal ini didorong oleh akses terhadap pendidikan misionaris dan nilai-nilai masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Hasilnya, banyak putra-putri Minahasa menjadi intelektual, profesional, dan pemimpin terkemuka di tingkat nasional.
• Kontribusi Terhadap Pembentukan Bangsa Indonesia:
Tokoh-tokoh Minahasa berperan besar dalam pergerakan nasional dan pembentukan Republik Indonesia. Ide-ide nasionalisme, persatuan, dan kemerdekaan tumbuh subur di kalangan kaum terpelajar Minahasa.
Contoh Konkret Kejayaan Minahasa:
• Pahlawan Nasional dan Tokoh Kemerdekaan:
o Wolter Monginsidi: Salah satu simbol perlawanan heroik terhadap Belanda pasca-kemerdekaan.
o Maria Walanda Maramis: Pionir emansipasi wanita dan pendidikan perempuan di Indonesia.
o Sam Ratulangi: Gubernur Sulawesi pertama dan tokoh multidimensional yang mencetuskan falsafah “Si Tou Timou Tumou Tou” (Manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain), sebuah filosofi yang sarat akan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
o B.W. Lapian: Salah satu tokoh Residen Manado dan menjadi pemimpin pergerakan mempertahankan kemerdekaan RI di Sulawesi Utara.
o Pierre Tendean: Pahlawan Revolusi.
o A.A. Maramis: Salah satu anggota BPUPKI dan perumus UUD 1945, serta Menteri Keuangan pertama Indonesia.
• Jejak Intelektual dan Profesional di Tingkat Nasional: Banyak sekali dokter, insinyur, guru besar, hakim, dan pejabat tinggi negara dari Minahasa yang mengisi posisi-posisi kunci sejak awal kemerdekaan hingga saat ini. Ini menunjukkan kualitas SDM Minahasa yang kompeten dan kontributif.
• Peran dalam Angkatan Bersenjata: Minahasa juga dikenal sebagai penghasil banyak prajurit dan perwira TNI yang tangguh dan berprestasi, menunjukkan loyalitas dan keberanian.
• Keunggulan Budaya dan Kesenian: Kekayaan seni musik (kolintang), tarian, dan kuliner Minahasa telah dikenal luas dan menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah budaya Indonesia.
Membangun kembali kejayaan Minahasa melalui PMR berarti merevitalisasi semangat juang, mengoptimalkan potensi SDM yang unggul, melestarikan nilai-nilai luhur, dan mendorong kontribusi yang lebih besar lagi bagi bangsa dan negara, sambil tetap menjaga identitas ke-Minahasa-an.
Asal Usul dan Arti Kata “Minahasa”
Penyebutan “Minahasa” sendiri memiliki sejarah dan makna yang mendalam, mencerminkan karakter dan perjalanan panjang masyarakatnya. Sebelum dikenal dengan nama “Minahasa”, wilayah ini dulunya sering disebut dengan Malesung.
Secara etimologi, kata “Minahasa” berasal dari beberapa variasi kata sebelumnya, seperti “Minaesa”, “Mahasa”, atau “Minhasa”.
Semua kata ini memiliki akar kata “asa” atau “esa” yang berarti “satu”.
Oleh karena itu, “Minahasa” secara umum diartikan sebagai “yang telah menjadi satu” atau “persatuan”. Makna ini sangat relevan dengan sejarah masyarakat Minahasa yang pada mulanya terdiri dari berbagai sub-etnis (seperti Tombulu, Tonsea, Tondano/Toulour, Tontemboan, Tonsawang, Ponosakan, Pasan/Ratahan, dan Bantik) yang kemudian bersatu.
Proses penyatuan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui serangkaian musyawarah dan kesepakatan antar pemimpin adat dari berbagai sub-etnis, salah satunya yang terkenal adalah di Watu Pinawetengan (Batu Pembagian). Di sana, mereka membahas pembagian wilayah, bahasa, dan ritual untuk menjaga keharmonisan dan menghadapi ancaman dari luar.
Nama “Minahasa” sendiri mulai dipopulerkan dan digunakan secara lebih formal pada abad ke-18 oleh pihak Belanda, khususnya Residen Manado J.D. Schierstein, untuk merujuk pada “Dewan Negeri” atau “Dewan Daerah” (Landrad/Minahasaraad) yang mencerminkan upaya penyatuan dan pemerintahan kolektif di wilayah tersebut.
Dengan demikian, nama “Minahasa” bukan hanya sekadar label geografis, melainkan sebuah penanda sejarah persatuan, semangat kebersamaan, dan identitas kolektif yang telah teruji oleh waktu.
PERHIMPUNAN MINAHASA RAYA
