Perhimpunan Minahasa Raya

Hari Pahlawan: Perhimpunan Tou Minahasa Letakan Karangan Bunga di Monumen Pahlawan Martinus dan Bernard Runtunuwu di Jakarta

Gambar: Perhimpunan Tou Minahasa, Meletakan Karangan Bunga di Momen Hari Pahlawan 10 November 2025, Tepatnya di Monumen Perjuangan Jatinegara, Jakarta, yakni Monumen Berdirinya 2 Pahlawan Asal Minahasa, Sulawesi Utara, Martinus Runtunuwu dan Bernard Runtunuwu. Tampak Pendiri Tou Minahasa, Willy Rawung (Paling Kiri), dan Wakil Ketua Teddy Matheos (Ketiga dari Kanan). (Foto: Minahasaraya.com/Harris)

minahasaraya.com – Di momen Hari Pahlawan 10 November 2025, “Perhimpunan Tou Minahasa”, meletakan karangan bunga di Monumen Perjuangan Jatinegara Jakarta. Monumen ini terdiri dari 2 (dua) tokoh pejuang asal Minahasa, Sulawesi Utara, Martinus Runtunuwu dan anaknya Bernard Runtunuwu. Monumen tersebut berdiri tegak di Jatinegara, tepatnya di ujung Jalan Matraman Raya, atau lokasinya di depan Gereja GPIB Koinonia, lokasi pertemuan antara Jalan Jatinegara Barat dan Jalan Urip Sumoharjo, Jakarta Timur.

Papan karangan bunga itu diletakkan tepatnya pukul 12.00 WIB, Senin 10 November 2025, oleh Pengurus Perhimpunan Tou Minahasa, yang dipimpin langsung Pendiri Perhimpunan Tou Minahasa, Willy Rawung, Philip Pantouw dan beberapa pengurus seperti Teddy Matheos, Ny Willy Rawung dan Rudy Sumampouw, di Monumen Perjuangan Jatinegara.

Menurut penjelasan Pendiri Perhimpunan Tou Minahasa, Willy Rawung, kepada minahasaraya.com, dilokasi monumen, dipilihnya monumen pejuang ayah dan anak, Martinus Runtunuwu dan Bernard Runtunuwu, untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas termasuk kepada Tou Minahasa, bahwa ada pahlawan pejuang yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, yang monumennya dibangun ditengah kota Jakarta.

“Karena masih banyak orang belum tahu dan memahami monumen ini, padahal dibangunnya monumen pejuang ayah dan anak, Martinus dan Bernard Runtunuwu, karena mereka berdua ikut berperang melawan Belanda,” ungkap Rawung.

Bahkan menurut Rawung, ada pahlawan seorang anak yang masih berumur 14 tahun yakni Bernard Runtunuwu, hanya berperang melawan Belanda hanya dengan bersenjatakan katapel.

“Monumen ini banyak yang belum tahu, sebab monumen tersebut tak diberi nama mengenai nama pahlawannya. Karena itu kami mengusulkan kepada pemerintah Provinsi DKI Jakarta, agar monumen ini diberi nama mengenai nama pahlawannya. Karena sejak diresmikan Gubernur DKI Tjokropranolo pada 7 Juni 1982, monumen perjuangan Jatinegara ini belum diberi nama,” ujarnya.

Monumen Perjuangan Jatinegara adalah dirancang dan dibuat oleh pematung Haryadi dengan latar belakang didepan Gereja GPIB Koinonia. Monumen Perjuangan Jatinegara berbentuk dua patung manusia, berdiri di landasan beton setinggi tiga meter dari permukaan tanah.

Patung pertama adalah sosok pemuda Martinus Runtunuwu, patung ini dibangun dengan tinggi 2,5 meter, berdiri dengan tangan sedekap sembari
memeluk senapan dan dilengkapi peralatan perang seperti pistol dan granat.

Di sampingnya, berdiri patung anak laki-laki, bernama Bernard Runtunuwu berusia 14 tahun, setinggi satu meter yang mengenakan celana
pendek, tanpa baju, dan kaki telanjang. Di lehernya bergantung sebuah ketapel. Diketahui Bernard Runtunuwu, dimakamkan di Tempat Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Awalnya, monumen itu telah direncanakan dibangun di sekitar lokasi Taman Viaduct,
Jatinegara, Jakarta. Namun, karena lokasinya tidak memungkinkan, akhirnya dipindahkan ke
Jalan Matraman Raya.

Dari informasi yang diperoleh, pembangunan Monumen Perjuangan Jatinegara waktu itu diprakarsai Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Namun peresmiannya dilakukan Gubernur
Tjokropranolo pada 7 Juni 1982.

Visualisasi Perjuangan Rakyat

Monumen ini dibangun guna
memvisualisasi rangkaian perjuangan rakyat melawan penjajah pada masa revolusi kemerdekaan. Rangkaian perjuangan itu meliputi daerah Pasar Jangkrik (Pasar Macan),
Paseban, Jatinegara, Kampung Melayu, Pulomas, Kampung Ambon, Palmeriam
(Solitude), Gang Bunga, pinggir jalan Viaducht (jembatan dekat teater), Pasar Mode
(Gang Kemuning), Leo Nilan (sekarang By Pass), Domis Park (belakang stasiun
Jatinegara), Kayumanis V Lama, Gang Nambru (pohon Kelapa Tinggi), Depo Jatinegara
dan Klender.

Perjuangan melawan Belanda waktu itu melibatkan Rakyat yang tergabung dalam Pasukan Pemberontakan Rakyat Indonesia
(PPRI) yang dipimpin oleh Kyai Haji Darip dan Bang Pi’i. Karena itu ntuk mengenang seluruh
peristiwa itu, dibangunlah Monumen Perjuangan Jatinegara.

Patung di depan Gereja Koinonia Jakarta ini juga merupakan Monumen Perjuangan Jatinegara, yang terletak di persimpangan Jalan Matraman Raya, Jalan Jatinegara Barat, dan Jalan
Urip Sumoharjo, Jakarta Timur.

Monumen Perjuangan Jatinegara pada dasarnya juga dibuat untuk mengenang pengorbanan dan perlawanan heroik rakyat Jakarta. Sejarah mencatat sejak November 1945 hingga Januari 1946, kerap terjadi pertempuran besar antara pemuda Indonesia melawan serdadu Inggris dan Belanda di sepanjang jalur Pasar Senen dan Kramat Raya serta di Meester Cornelis
(Jatinegara). (hvs)


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *