Perhimpunan Minahasa Raya

Dari Diskusi Soemitronomics: Pantouw, Rawung dan Matindas Dukung Penuh Prabowonomics

Gambar: Diskusi Soemitronomics, Dihadiri Philip Pantouw, Willy Rawung dan Benny Matindas, yang Mendukung Prabowonomics, di MOI Kelapa Gading, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026. (Foto dan Rangkuman: Minahasaraya/Harris)

minahasaraya.com – Sejumlah aktor dan pemangku kepentingan yang tergabung dalam Majelis Keluarga Besar Permesta (MKB Permesta) dan Perhimpunan Tou Minahasa (PTM), mendukung penuh konsep Prabowonomics atau gagasan-gagasan dari Presiden Prabowo Subianto dalam melaksanakan program pembangunan nasional saat ini.

Dukungan MKB Permesta dan PTM tersebut dihasilkan melalui diskusi bertajuk Soemitronomics, di Resto Kamlai, MOI, Kelapa Gading, Jakarta, pada Rabu, 4 Februari 2026, pukul 17.00-21.00 WIB. Sejumlah aktor yang juga para Tou Minahasa yang hadir dalam diskusi, masing-masing, Philip Paulus Pantouw (MKB Permesta), Willy H.Rawung (Perhimpunan Tou Minahasa), Benny Matindas (Teknokrat Sejarah), dan Harris Vandersloot Laoh (Jurnalis Minahasaraya).

Pada diskusi tersebut MKB Permesta dan Perhimpunan Tou Minahasa, mendukung konsep dan gagasan Prabowonomics saat ini antara lain untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi (8 persen), pemerataan manfaat pembangunan, dan stabilitas nasional yang dinamis, serta langkah-langkah intervensi pemerintah melalui subsidi industri, penguatan manufaktur, hingga kebijakan strategis sektor energi.

Pada pengantar diskusi Philip Pantouw mengatakan Prabowonomics adalah gabungan dari Soemitronomics dan Hattanomics, yang adalah gagasan dari mendiang begawan ekonomi yang juga ayahanda dari Presiden Prabowo yakni Soemitro Djojohadikusumo, dan salah satu Proklamator, Bung Hatta.

“Prabowonomics adalah adalah gabungan dari Soemitronomics dan Hattanomics, yang ditambah konsep-konsep kebijakan moneter saat ini. Dua konsep Sumitronomics dan Hattanomics berakar kuat dan mengalir ke konsep Prabowonomics,” jelas Philip.

“Memang dari awal tak ada Prabowonomics, melainkan Soemitronomics. Namun Roh dari Soemitronomics diwujudkan melalui Presiden Prabowo Subianto dalam Prabowonomics, untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi ekonomi 8 persen. Konsep ini menekankan kedaulatan ekonomi, dan intervensi negara dalam sektor vital, serta sinergi fiskal dan investasi untuk pemerataan menuju Indonesia Emas 2045,” urai Philip Pantouw.

Lebih jauh Philip menjelaskan, Soemitronomics adalah kerangka kebijakan ekonomi berbasis pemikiran Soemitro Djojohadikusumo, yang semula gagasan ini diawali melalui Program Ekonomi Benteng, kemudian dipatrikan dalam Piagam Permesta 2 Maret 1957, yang berintikan keadilan dan pemerataan pembangunan pusat dan daerah, kemudian dilaksanakan dalam Trilogi Pembangunan Orde Baru. Soemitronomics juga sering digambarkan sebagai pendekatan pragmatis yang menyeimbangkan antara pembangunan nasional dan keadilan sosial.

Sementata Willy Rawung dari Perhimpunan Tou Minahasa menambahkan, poin-poin penting Soemitronomics ada pada Tiga Pilar Utama yang fokus pada pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan hasil pembangunan, dan stabilitas nasional yang dinamis, serta kedaulatan ekonomi yang menegaskan bahwa sektor industri vital harus dikuasai negara, bukan oleh modal asing.

Selain itu menurut Rawung, poin lain Soemitronomics adalah pada Ekonomi Campuran dimana Soemitro Djojohadikusumo mendukung peran aktif negara dalam mengatur pasar dan mendorong industrialisasi, namun tetap memberi ruang pada sektor swasta. Dan juga pada Relevansi Modern, yang digunakan untuk memacu pertumbuhan ekonomi diatas 6 persen dan mencapai target 8 persen, serta beradaptasi ke arah kedaulatan digital.

“Presiden Prabowo menuangkan inti pemikiran dan gagasan yang terkandung dalam roh Soemitronomics ke dalam Prabowonomics, dan ke dalam program Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran. Dan ini telah diwujudkan pada tahun pertama pemerintahannya,” kata Willy Rawung.

Beny Matindas sebagai Teknokrat Sejarah, menyampaikan dalam diskusi, bahwa perlu didukung penuh gagasan-gagasan Presiden Prabowo atau Prabowonomics.

Lanjut Benny, konsep, penjabaran dan gagasan Presiden Prabowo, perlu disambut cepat oleh semua pihak terutama para eksekutif pemerintahan dibawahnya, guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, laju pembangunan dan stabilitas nasional yang kuat.

Ia kemudian menjelaskan, program ekonomi Benteng yang digagas Soemitro Djojohadikusumo pada 1950-1957, merupakan gagasan konkrit tentang desentralisasi dan otonomi daerah yang seluas-luasnya. “Pemikiran Soemitro ini kemudian dituangkan sepenuhnya dalam konsep Piagam Permesta,” ujar Benny.

Pada kesimpulan diskusi bahwa Prabowonomis adalah gagasan pemikiran yang merupakan gabungan Soemitronomics dan Hattanomics, merupakan kerangka kebijakan ekonomi berbasis pemikiran Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo dan Proklamtor Bung Hatta.

Gagasan ini diawali melalui Program Benteng Soemitro, kemudian dipatrikan dalam Piagam Permesta 2 Maret 1957, yang berintikan keadilan dan pemerataan pembangunan pusat dan daerah yang pernah dilaksanakan dalam Trilogi Pembangunan Orde Baru. Selain itu gagasan Soemitronomics juga sering digambarkan sebagai pendekatan pragmatis yang menyeimbangkan antara pembangunan nasional dan keadilan sosial.

Kesimpulan lain adalah roh dari Soemitronomics sedang diwujudkan Presiden Prabowo Subianto dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, khususnya target pertumbuhan ekonomi 8 persen, kemandirian pangan dan energi, Hilirisasi, dan kesejahteraan. (hvs)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *