Perhimpunan Minahasa Raya

15 Turis Asal Prancis Belajar Masak Makanan Ekstrim Minahasa di Resto Mansai Kitchen and Bar Kinilow Milik Prof Alex Masengi

Foto: 15 Turis Asal Prancis

minahasaraya.com – Satu keluarga asal Prancis terdiri 15 orang terlibat belajar memasak makanan ekstrim Minahasa, dengan bahan baku dari daging ular phyton, paniki dan daging babi hutan (celeng), di selingi pembuatan kue tradisional manado berupa cucur dan apang, yang berlangsung di Resto Mansai Kitchen and Bar, Kinilow, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, Selasa 29 Juli 2025.

Kegiatan yang diberi nama Cooking Class ini hanya mengkhususkan makanan yang bahan dasarnya dari daging ekstrim, dengan tujuan para turis dari Prancis bisa memperoleh pengalaman kuliner dan budaya yang sangat menarik. Mengingat belajar memasak diikuti turis dari eropa, maka kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan edukatif, etis, dan sensitif.

Pemilik Resto Mansai Kitchen and Bar Kinilow, Prof Kawilarang Warouw Alex Masengi kepada minahasaraya.com, menjelaskan, kegiatan ini dirancang
pada Selasa tanggal 29 Juli 2025. Dimana satu keluarga dari Prancis sebanyak 15 orang yang berlibur di Indonesia selama 12 hari, kemudian mereka menyempatkan diri belajar memasak makanan ekstrim Minahasa di Resto Mansai Kitchen and Bar Kinilow.

“Kegiatan memasak yang penuh akrab ini berlangsung seharian, dengan bahan baku dasar adalah daging-daging ekstrim seperti ular phyton, paniki dan babi hutan (celeng), serta di selingi oleh pembuatan kue tradisional cucur dan apang,” ungkap Masengi.

Restoran Mansai Kitchen and Bar Kinilow sendiri di kelola keluarga Masengi-Mandagi, yang juga sebagai keluarga akademisi.

Pada cooking class tersebut selain mengajarkan cara memasak makanan ekstrim, juga dilakukan edukasi budaya yakni mengenalkan budaya kuliner Minahasa yang unik.

Kedua, pengalaman interaktif dimana pengunjung bisa mendapatkan pengalaman interaktif bersama chef lokal. Ketiga, dalam kegiatan ini juga dilakukan diskusi kuliner dan etika dimana pengunjung bisa mengenal tentang perbedaan budaya makan dan etika terhadap makanan ekstrim.

Sebelum memulai belajar memasak, ke-15 warga Prancis tersebut mendapat penjelasan singkat tentang sejarah dan filosofi makanan ekstrem Minahasa, serta penjelasan soal asal-usul dan nilai gizi.

Menurut Prof Masengi, dalam memperkenalkan cara memasak makanan ekstrim, maka etika internasional harus diutamakan, seperti menghindari dari bahan yang bisa menimbulkan kontroversi tinggi seperti daging anjing.

Sedangkan untuk aspek halal dan kesehatan menurut Masengi, harus dijelaskan bahwa ini adalah makanan adat dan bukan untuk dikonsumsi umum. “Juga dilakukan transparansi untuk memastikan terhadap warga Prancis mengenai apa saja yang akan digunakan, dan mereka boleh memilih ikut terlibat memasak atau hanya mengamati,” katanya.

Masengi juga menjelaskan, bahwa kegiatan ini ada nilai tambah untuk turis dari Prancis, karena mereka bisa mendapatkan pengalaman kuliner yang tidak bisa didapatkan di negara mereka, dan pemahaman lintas budaya yang mendalam, serta memperoleh cerita unik yang bisa mereka bagikan di komunitas pecinta kuliner. (*/hvs)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *