Gambar: Cindy Pantouw-Karouwan, Saat Diwawancarai Minahasaraya, Beberapa Waktu Lalu/Foto: Screenshoot
minahasaraya.com – Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK), Cindy Pantouw-Karouwan, mengatakan peringatan Hari Perawat Nasional yang jatuh setiap tanggal 17 Maret, patut menjadi momen mengenang sosok perawat internasional asal Minahasa, Dora Sigar, ibunda Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Cindy yang dihubungi sejumlah media termasuk minahasaraya, Senin (16/3/2026), menyatakan, Dora Sigar merupakan contoh nyata dedikasi seorang perawat Indonesia yang mampu berkiprah di tingkat internasional.
“Momentum Hari Perawat Nasional 17 Maret ini seharusnya menjadi kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk mengenang profesi mulia seorang perawat dan memberikan penghargaan kepada mendiang Ibu Dora Sigar yang pernah menjalankan tugas kemanusiaannya sebagai perawat di Belanda dan Jerman,” ujar Cindy.
Ia mengatakan, profesi perawat memiliki peran strategis dalam sistem pelayanan kesehatan karena mereka berada di garis terdepan dalam menyelamatkan dan merawat kehidupan manusia.
Di sisi lain, Cindy menilai perhatian terhadap kesejahteraan dan posisi profesional perawat di Indonesia masih belum optimal.
“Selama ini perawat di Indonesia masih kurang diperhatikan. Kondisi ini tentu berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat sebagai pasien,” katanya.
Cindy menjelaskan, jika dibandingkan dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, terdapat sejumlah perbedaan mendasar dalam sistem profesi perawat.
Dari sisi status profesi, di Indonesia perawat masih sering dipandang sebagai pembantu dokter. Dalam praktik rumah sakit, hampir seluruh keputusan medis berada di tangan dokter, sementara pendapat profesional perawat belum selalu menjadi bagian utama dalam pengambilan keputusan klinis.
Sebaliknya, di Eropa dan Amerika, perawat dipandang sebagai tenaga profesional mandiri dalam tim medis. Pendapat mereka sangat dihargai karena perawat adalah tenaga kesehatan yang paling lama mendampingi pasien. Bahkan terdapat berbagai spesialisasi seperti Nurse Practitioner, Clinical Nurse Specialist, hingga Nurse Anesthetist. Di beberapa negara, perawat juga dapat membuka praktik pelayanan kesehatan dasar secara mandiri.
Ia mengatakan, dalam hal kewenangan medis, perawat di Indonesia umumnya berfokus pada perawatan pasien dan menjalankan tindakan medis sederhana berdasarkan instruksi dokter.
Sementara di Amerika dan sejumlah negara Eropa, jenis perawat tertentu memiliki kewenangan lebih luas, seperti mendiagnosis penyakit ringan, memberikan resep obat tertentu, hingga memimpin pelayanan kesehatan primer.
Menurutnya, beban Kerja dan perbedaan Kesejahteraan juga terlihat. Di Indonesia, rasio perawat dan pasien sering tidak seimbang. Dalam satu shift kerja, seorang perawat dapat menangani 10 hingga 20 pasien atau bahkan lebih.
Sebaliknya lanjut Cindy, di Eropa dan Amerika, rasio perawat terhadap pasien cenderung lebih manusiawi, umumnya sekitar satu perawat untuk empat hingga enam pasien, tergantung jenis ruang perawatan.
“Kondisi tersebut memungkinkan perawat memiliki waktu lebih banyak untuk berbicara dengan pasien, memberikan dukungan emosional, serta memastikan kualitas perawatan yang lebih baik,” ujarnya.
Dari sisi kesejahteraan, kata Cindy, perawat di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Banyak perawat yang menerima gaji relatif rendah, terutama di fasilitas kesehatan kecil atau di daerah.
Dijelaskan, berbeda dengan Amerika, di mana profesi perawat termasuk dalam kategori kelas menengah atas dengan penghasilan rata-rata sekitar 70.000 hingga 100.000 dolar AS per tahun. “Di negara-negara Eropa, penghasilan perawat juga umumnya cukup untuk hidup layak dengan dukungan jaminan sosial yang kuat,” tuturnya.
Sistem Belum Mendukung
Cindy menegaskan, perbedaan tersebut sebenarnya bukan karena kemampuan perawat Indonesia lebih rendah, melainkan karena sistem yang belum sepenuhnya mendukung profesi tersebut.
Menurutnya, banyak perawat Indonesia yang justru memperoleh pengakuan profesional tinggi ketika bekerja di luar negeri.
Ia mencontohkan sosok Dora Sigar yang berasal dari Minahasa dan berhasil menjalani karier sebagai perawat profesional di Jerman dan Belanda.
“Kisah seperti ini menunjukkan bahwa ketika diberi kesempatan dan sistem yang baik, perawat Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional,” katanya.
Karena itu, Cindy berharap peringatan Hari Perawat Nasional tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan nasional.
“Jika sistem diperbaiki dan kesejahteraan diperhatikan, para perawat akan benar-benar bisa melayani dengan hati, bukan sekadar bekerja di bawah tekanan sistem,” pungkasnya.
Hari Perawat Nasional sendiri diperingati setiap tahun pada tanggal 17 Maret. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya organisasi profesi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) pada 17 Maret 1974. Peringatan ini bertujuan mengapresiasi dedikasi perawat dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. (*)