Perhimpunan Minahasa Raya

(Bagian 3) Siphamia Tubifer Dan Simbiosis Bioluminesen Dengan Photobacterium Mandapamensis: Model Vertebrata Untuk Memahami Interaksi Ikan-Mikroba di Ekosistem Terumbu Karang

Ixchel Feibie Mandagi,SPi.,MSi.,PhD (Kanan)


SIPHAMIA TUBIFER DAN SIMBIOSIS BIOLUMINESEN DENGAN
PHOTOBACTERIUM MANDAPAMENSIS: MODEL VERTEBRATA UNTUK
MEMAHAMI INTERAKSI IKAN–MIKROBA DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG

Oleh
Ixchel Feibie Mandagi,SPi.,MSi.,PhD

Dosen Pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
Peneliti Genetika Populasi dan Biogeografi Perikanan
Peneliti Laut Daalam
Peneliti Ikan Purba Raja Laut, Coelacanth
Team Member Research Collaboration on Banggai Cardinalfish With Rutgers University
Person In Charge Research Collaboration on Siphamia Tubifer (Sea Urchin Cardinalfish)


2. Komunikasi dan Interaksi Sosial
Selain sebagai alat kamuflase, bioluminesensi juga diduga berperan dalam komunikasi antarindividu. Siphamia tubifersering ditemukan hidup dalam kelompok kecil yang berasosiasi dengan bulu babi atau struktur terumbu karang tertentu. Dalam kondisi cahaya yang sangat rendah pada malam hari, sinyal visual dari organ cahaya dapat membantu individu mengenali anggota kelompoknya. Para peneliti menduga bahwa pola dan intensitas cahaya tertentu dapat digunakan
sebagai sarana komunikasi untuk mempertahankan kohesi kelompok, mengoordinasikan pergerakan saat mencari makan, atau membantu proses pengenalan sesama spesies. Fungsi
komunikasi ini menjadi penting karena lingkungan terumbu karang pada malam hari memiliki visibilitas yang terbatas sehingga sinyal cahaya dapat menjadi media komunikasi yang lebih efektif dibandingkan isyarat visual biasa. Meskipun mekanisme komunikasi berbasis bioluminesensi pada S. tubifer masih terus diteliti, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa cahaya yang dihasilkan simbion kemungkinan memiliki peran dalam interaksi sosial dan perilaku kelompok.
Kemampuan tersebut dapat meningkatkan efisiensi aktivitas malam hari sekaligus membantu menjaga keteraturan perilaku antarindividu dalam suatu populasi.

3. MENINGKATKAN EFISIENSI MAKAN
Fungsi lain yang diduga terkait dengan bioluminesensi adalah peningkatan keberhasilan memperoleh makanan. Sebagai ikan planktivora nokturnal, S. tubifer bergantung pada ketersediaan zooplankton dan organisme kecil lainnya yang melayang di kolom air. Dalam kondisi
pencahayaan rendah, kemampuan mendeteksi dan menangkap mangsa menjadi tantangan tersendiri. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa cahaya yang dihasilkan oleh organ cahaya
dapat membantu menarik organisme planktonik tertentu yang memiliki respons terhadap sumber cahaya.

Kehadiran zooplankton di sekitar ikan dapat meningkatkan peluang terjadinya kontak
antara predator dan mangsa sehingga efisiensi penangkapan makanan menjadi lebih tinggi. Selain itu, cahaya juga dapat membantu ikan mengidentifikasi objek atau pergerakan mangsa di lingkungan sekitarnya. Walaupun fungsi ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan mekanismenya secara rinci, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa bioluminesensi kemungkinan memberikan keuntungan langsung dalam aktivitas mencari makan.
Dengan demikian, hubungan simbiosis antara S. tubifer dan P. mandapamensis tidak hanya berperan dalam perlindungan dari predator, tetapi juga dapat meningkatkan keberhasilan memperoleh sumber energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan reproduksi.

Pola Makan
Siphamia tubifer merupakan ikan planktivora nokturnal yang sebagian besar aktivitas makannya berlangsung pada malam hari. Kebiasaan ini berkaitan erat dengan perilaku hidupnya yang bersembunyi pada siang hari di antara duri bulu babi atau celah-celah terumbu karang,
kemudian keluar setelah matahari terbenam untuk mencari makan di perairan sekitarnya. Pola aktivitas tersebut memungkinkan ikan memanfaatkan sumber daya makanan yang melimpah pada malam hari sekaligus mengurangi risiko pemangsaan oleh predator di siang hari. Analisis isi lambung menunjukkan bahwa makanan utama S. tubifer didominasi oleh berbagai organisme zooplankton berukuran kecil. Beberapa kelompok mangsa yang paling sering ditemukan antara lain: Copepoda (udang renik planktonik), Amphipoda, Larva krustasea, Zooplankton pelagik lainnya dan Organisme mikronekton berukuran kecil. Copepoda umumnya menjadi komponen makanan yang paling dominan karena organisme ini sangat melimpah di perairan tropis dan merupakan sumber protein
yang penting bagi banyak ikan planktivora. Selain copepoda, larva berbagai jenis krustasea juga menjadi sumber nutrisi yang bernilai tinggi karena mengandung protein dan lipid yang mendukung pertumbuhan ikan.

Aktivitas makan biasanya dimulai segera setelah matahari terbenam. Pada saat itu, S.tubifer meninggalkan tempat persembunyiannya dan berenang di sekitar terumbu karang atau kolom air untuk menangkap zooplankton yang terbawa arus. Strategi mencari makan ini
memungkinkan ikan memanfaatkan peningkatan aktivitas zooplankton yang sering bermigrasi ke lapisan perairan yang lebih dangkal pada malam hari. Fenomena tersebut dikenal sebagai migrasi vertikal harian (diel vertical migration) dan merupakan salah satu pergerakan biomassa terbesar di lautan.

Kemampuan visual yang baik pada kondisi minim cahaya, didukung oleh ukuran mata
yang relatif besar serta kemungkinan bantuan cahaya dari organ bioluminesen, membuat S.tubifer mampu mendeteksi dan menangkap mangsa secara efisien. Kombinasi antara adaptasi morfologi, perilaku nokturnal, dan simbiosis bioluminesen menjadikan spesies ini sangat berhasil memanfaatkan sumber makanan planktonik yang tersedia di ekosistem terumbu karang tropis.
Dengan pola makan yang didominasi zooplankton, S. tubifer memiliki peran penting dalam rantai makanan laut sebagai penghubung antara tingkat trofik rendah dan predator yang lebih besar. Ikan ini membantu mentransfer energi dari komunitas plankton menuju tingkat trofik yang lebih tinggi, sehingga berkontribusi terhadap kestabilan dan fungsi ekosistem terumbu karang secara keseluruhan.

REPRODUKSI DAN MOUTHBROODING.
Seperti sebagian besar anggota famili Apogonidae, Siphamia tubifer memiliki strategi reproduksi yang khas berupa paternal mouthbrooding, yaitu perilaku mengerami telur di dalam rongga mulut oleh individu jantan. Strategi reproduksi ini merupakan salah satu bentuk perawatan parental yang relatif maju pada ikan laut dan berperan penting dalam meningkatkan keberhasilan reproduksi. Setelah proses pemijahan dan pembuahan berlangsung, telur yang telah dibuahi akan dikumpulkan dan disimpan di dalam rongga mulut jantan selama masa perkembangan embrio hingga menetas (Kuiter & Kozawa, 1999; Gon & Randall, 2003).

Selama periode inkubasi tersebut, jantan menjaga telur secara intensif dengan menyediakan perlindungan fisik terhadap berbagai ancaman lingkungan, termasuk predator, arus laut yang kuat, serta kemungkinan infeksi oleh mikroorganisme patogen. Rongga mulut menyediakan lingkungan yang relatif stabil bagi perkembangan embrio, sehingga tingkat kelangsungan hidup telur menjadi lebih tinggi dibandingkan jika telur dilepaskan secara bebas ke lingkungan perairan. Perawatan ini merupakan bentuk investasi reproduksi yang besar karena secara langsung meningkatkan peluang keturunan untuk bertahan hidup hingga tahap larva (Okuda & Yanagisawa, 1996; Kolm, 2002).
Perilaku mouthbrooding juga menuntut biaya energi yang cukup tinggi bagi induk jantan.

Selama mengerami telur, jantan mengalami keterbatasan dalam aktivitas makan karena sebagian besar rongga mulutnya dipenuhi oleh kumpulan telur yang sedang berkembang. Akibatnya, asupan energi berkurang secara signifikan selama masa inkubasi. Kondisi tersebut menyebabkan jantan harus mengandalkan cadangan energi tubuh yang telah dikumpulkan sebelumnya. Oleh karena itu, keberhasilan reproduksi tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah telur yang dihasilkan betina, tetapi juga oleh kondisi fisiologis jantan yang bertugas menjaga telur hingga menetas (Marnane & Bellwood, 2002; Kolm, 2002).

Penelitian mengenai biologi reproduksi S. tubifer menunjukkan bahwa individu mulai
mencapai kematangan gonad pada ukuran sekitar 22 mm panjang standar. Jumlah telur yang dihasilkan dan dibawa oleh jantan cenderung meningkat seiring bertambahnya ukuran tubuh, menunjukkan adanya hubungan positif antara ukuran induk dan kapasitas reproduksinya. Individu yang lebih besar umumnya mampu menghasilkan keturunan lebih banyak karena memiliki ruang rongga mulut yang lebih luas dan cadangan energi yang lebih besar untuk mendukung
proses mouthbrooding(Thresher, 1984; Gon & Randall, 2003). Strategi reproduksi ini dianggap sangat sesuai dengan kondisi ekosistem terumbu karang yang memiliki tingkat predasi tinggi terhadap telur dan larva ikan. Dengan memberikan perlindungan langsung terhadap telur, S. tubifer dapat meningkatkan peluang keberhasilan penetasan dan mempertahankan populasi secara lebih efektif. Perilaku paternal mouthbrooding juga menjadi salah satu karakter penting yang membedakan famili Apogonidae dari banyak kelompok ikan karang lainnya (Okuda & Yanagisawa, 1996; Marnane & Bellwood, 2002).
Bersambung…..SIGNIFIKANSI ILMIAH















Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *