Gambar : Philip P. Pantouw
minahasaraya.com – Adik Tokoh Permesta Nun Pantouw yakni Philip Pantouw yang juga Ketua Umum Majelis Keluarga Besar Permesta (MKBP) menyatakan, Mantan Menteri Keuangan era Soekarno, Prof Soemitro Djojohadikusumo, bukan seorang koruptor, karena di era sebelum tahun 1957 tersebut Indonesia dilanda inflasi sebesar 600% dan Indonesia ketika itu kesulitan uang. “Terus apa yang mau dikorupsi,” tegas Philip, saat berbincang disalah satu akun channel YouTube, belum lama ini.
“Begitu juga dengan Permesta, bahwa Permesta bukan sebagai pemberontak. Permesta melalui Petisi Piagam Permesta 2 Maret 1957 berisi hanyalah koreksi terhadap pemerintah pusat mengenai otonomi daerah yang digagas Prof Soemitro,” jelas Philip.
Ia menjelaskan, saat ini para pakar sejarah dari beberapa Universitas di Indonesia melalui kementerian kebudayaan, sedang dan sudah merevisi bahwa Permesta bukan pemberontak tetapi merupakan perjuangan koreksi.
“Jadi Pak Prabowo, bukan merupakan anak dari pemberontak,” tegas Philip Pantouw.
Lebih jauh Philip menjelaskan, pada tahun 1955 hingga 1957, gagasan pembangunan ekonomi Prof Soemitro tidak disukai Bung Karno, dan puncaknya pada 1957 lahirnya piagam Permesta.yang merupakan lahir dari dasar pokok pikiran dan gagasan Prof Soemitro .
“Dan mulai dari saat itu Bung Karno mulai mengikuti pergerakan Prof Soemitro. Bung Karno tahu persis bahwa Prof Soemitro sudah bekerjasama dengan Permesta, dan memerintahkan Jenderal Abdul Haris Nasution untuk menangkap Prof Soemitro, dengan tuduhan koruptor,” ungkapnya.
Padahal lanjut Philip, uang permesta untuk membeli persenjataan berasal dari barter kopra yang dilakukan permesta di Singapura dan Hongkong dan menyimpannya di bank Swiss.
“Waktu itu kode PIN bank Swiss milik Permesta, hanya diketahui dua orang, Ventje Sumual dan Nun Pantouw. Namun setelah Ventje Sumual dan Nun Pantouw diburuh tentara pusat dan lari ke luar negeri. Maka PIN nya itu diberikan ke Pak Soemitro,” ujarnya.
“Jadi pembelian persenjataan bukan dari uang korupsi sebagaimana yang dituduhkan Bung Karno sejak Prof Soemitro menjabat Menteri Keuangan, namun pembelian persenjataan Permesta diambil dari uang barter kopra,” jelas Philip.
Mengenai Permesta bukan pemberontak kata Philip, karena Permesta hanya melakukan hak untuk membela diri setelah penyerangan tentara pusat ke daerah dan membom Kota Manado pada 22 Februari 1958.
Selain itu alasan lain bukan pemberontak karena pada saat Ventje Sumual memproklamirkan Piagam Perjuangan Permesta Pada 2 Maret 1957 di Makassar, menegaskan bahwa Permesta tetap berkomitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan tidak menyatakan keluar dari wilayah Indonesia.
“Jadi pemberontakan Permesta (1957–1958) muncul sebagai respons terhadap ketimpangan fiskal, dominasi Jakarta dalam pengambilan kebijakan. Permesta muncul akibat ketidakpuasan daerah terhadap pemerintah pusat di Jakarta, meliputi masalah otonomi daerah dan pembagian dana pembangunan yang timpang,” ungkapnya.
“Setelah Pak Prabowo pulang dari Yordania pada 2002, Pak Prabowo memanggil kakak saya yang satu lagi yakni Willy Pantouw sebagai saksi ketika Permesta, yang biasa disapa Pak Prabowo sebagai uncle Willy, untuk meminta penjelasan dari Uncle Willy mengenai peranan ayahnya Prof Soemitro di Permesta, apakah seorang pemberani atau penakut,” ujar Philip.
“Uncle Willy merupakan saksi yang selalu bersama Pak Soemitro selama diluar negeri. Bahkan Uncle Willy menjadi pengasuh Pak Prabowo ketika itu selama diluar negeri di Taiwan, Hongkong dan Petaling Malaysia. Jadi Pak Prabowo tak banyak tahu tentang peranan Pak Soemitro di Permesta. Dan penjelasn Uncle Willy ini yang menyebutkan Pak Soemitro adalah seorang pemberani. Sebagai saksi ada Pak Simon Mantiri juga ketika itu yang mendengarnya, karena Pak Simon saat itu adalah Sekretaris pribadi Pak Prabowo. Dan ini kesaksian dan fakta,” tambah Philip. (hvs)