Gambar : Pidato Ketua Umum Majelis Keluarga Besar Permesta (MKBP) Philip P. Pantouw, di Peringatan HUT Ke-109 Prof Soemitro Djojohadikusumo, di Gubernuran Bumi Beringin, Manado, Jumat, 29 Mei 2026.
minahasaraya.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-109 Begawan Ekonomi Indonesia Prof Soemitro Djojohadikusumo, berlangsung sukses di Graha Gubernuran Bumi Beringin, Manado, Jumat, 29 Mei 2029. Acara ini digwlar oleh Majelis Keluarga Besar Permesta (MKBP) bekerjasama dengan Dewan Presidium Pusat Komando Permesta Indonesia.
Pada peringatan HUT Prof Soemitro tersebut bertujuan untuk mengangkat nama Prof Soemitro untuk menjadi pahlawan nasional, dengan dasar pemikiran dan teori beliau yang sangat berpengaruh dalam perjalanan ekonomi Indonesia.
Ketua Umum MKBP Philip Pantouw pada pidato HUT ke-109 Prof Soemitro, menegaskan tanggal 29 Mei 1917 adalah hari kelahiran ekonom agung Indonesia.
“Peringatan HUT ini mengangkat tema : “Soemitronomics dan Semangat Permesta Menuju Indonesia Raya Dalam Rangka Mendukung Penuh Pemberian Gelar Pahlawan Nasional bagi Prof Soemitro Djojohadikusumo”.
Lanjut Philip, terkait latar belakang Prof Soemitro telah dijabarkan oleh pembicara sebelumnya dalam HUT Prof Soemitro ke-109, yang disampaikan Pengusaha sekaligus Staf Khusus Gubernur Sulut Recky Langie dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Victor Lengkong, dan Sejarawan Roger Kembuan.
“Apa alasan MKBP proaktif dalam mendukung kegiatan untuk mengusulkan pahlawan nasional Prof Soemitro Djojohadikusumo,” ujarnya.
Philip mengatakan, dalam rangka mengusulkan Prof Soemitro sebagai pahlawan nasional, itu dimulai dari kegiatan diskusi panel Soemitronomics di Graha Pena Manado Post dan Unsrat beberapa pekan lalu.
“Prof Soemitro adalah seorang pemikir dan mau menjabarkan pemikirannya, bukan hanya dari belakang meja, namun beliau pro-aktif memperjuangkan konsepnya di lapangan,” ungkapnya.
Sebagai doktor ekonomi pertama di Asia, menurut Philip, Prof Soemitro punya langkah konkret untuk memperjuangkan konsep pemikirannya. “Catatan sejarah mencatat bahwa Prof Soemitro waktu itu beda konsep dengan Bung Karno,” terang Philip.
“Maka Februari 57, sebulan sebelum piagam Permesta di Makasar, Prof Soemitro datang di Kinilow Tomohon, untuk berbicara dengan para tokoh Permesta, termasuk Ventje Sumual,” tambahnya.
“Karena itu dalam setiap memperingati Piagam Permesta, adalah peringati lahirnya konsep dasar dan ideologi yang diperjuangkan Permesta yang datang dari pemikiran Prof Soemitro. Dibuktikan dengan tuguh pertemuan yang sampai hari ini masih ada di Kinilow,” ujar Philip.
“Saya mau katakan bahwa gerakan Permesta adalah lahir dari konsep pemikiran dari Prof Soemitro. “Ini titik awal dan benang emasnya. Karena waktu itu pemerintah pusat dan Bung Karno, tidak mau menerima konsep Prof Soemitro. Ini alasan dasar sehingga Prof Soemitro pergi beristirahat ke luar negeri. Pergi menenangkan diri karena konsepnya tidak diterima oleh Bung Karno,” tegasnya.
“Bung Karno juga sudah memperhatikan gerakan Permesta. Maka dirinya datang ke Tomohon pada tahun 1957 dan menyatakan siap untuk melakukan pemerataan pembangunan pusat dan daerah,” kata Philip.
“Namun sampai pergantian kabinetnya (Bung Karno), tidak melibatkan Prof Soemitro. Jadi konsep 2 Maret 1957 hanya petisi politik yang disampaikan ke Bung Karno. Setelah itu pada 22 Februari 1958, aksi militer pertama dari pusat di Manado, dan waktu itu Permesta punya hak untuk membela diri,” tambahnya lagi.
Philip menegaskan, pada Peringatan HUT ke-109 Prof Soemitro, perlu untuk membersihkan namanya. Karena sempat disebut pemberontak dan koruptor.
“Namun setelah diberi grasi dan amnesti, dan saat ini melalui kementerian kebudayaan, kata pemberontak kepada Permesta direvisi dan diputihkan. Sudah tidak disebut pemberontak dan sudah jadi gerakan koreksi. Kekeliruan besar jika dikatakan Prof Soemitro dituduh sebagai pemberontak dan lari ke luar negeri,” tegasnya lagi.
Philip yang juga adik kandung pejuang Permesta Nun Pantouw ini juga meluruskan bahwa uang Permesta yang digunakan untuk membeli senjata adalah dari uang barter kopra yang disimpan di bank Swiss. “Bukan seperti dituduhkan uang korupsi dari Prof Soemitro,” ungkapnya. Ini yang harus kita luruskan. Pak Soemitro bukanlah koruptor,” terangnya.
Setelah orde Baru, lanjut Philip, Prof Soemitro diminta Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia. “Dan Lahirlah Trilogi pembangunan yang lahir dari apa yang didasarkan pemikiran Prof Soemitro,” katanya.
Kaitannya Soemitronomics diturunkan ke Prabowo Subianto dan jadilah Prabowonomics. “Yang merupakan gagasan pemikiran ekonomi Soemitro yang turun ke Pak Prabowo, yang dikembangkan sebagai ekonomi konstitusi yang berdasarkan UUD 1945. Inilah fondasi dasar menuju Indonesia emas 2045,” tegas Pantouw.
“Permesta kalah di berbagai pertempuran namun memenangkan peperangan. Karena saat ini konsep Prof Soemitro digunakan untuk membangun perekonomian Indonesia,” ungkapnya.
“Saya berpesan ke keluarga besar Sigar Maengkom untuk memperbanyak anak-anak ideologi Soemitro Djojohadikusumo. Seorang pejuang akan jadi besar adalah jika sudah banyak mempunyai anak ideologi yang mendukungnya,” tambahnya.
“Pak Soemitro adalah tokoh utama Permesta. Kita walaupun bukan anak biologis, kita punya hak untuk menegakkan nama Prof Soemitro, karena kita adalah anak ideologisnya,” tutup Philip Pantouw. (*/hvs)