Perhimpunan Minahasa Raya

Dari Diskusi Peringatan Piagam Perjuangan Semesta: Sumitronomics dan Prabowonomics Solusi Menuju Indonesia Emas 2045

Gambar: Diskusi Panel Peringatan Piagam Perjuangan Semesta di Manado, Hasil Kerjasama Majelis Keluarga Besar Permesta, Perhimpunan Tou Minahasa dan Manado Post, Senin, 2 Maret 2026/Foto: Panitia/Kolase: Minahasaraya.com/HVS


minahasaraya.com – Peringatan Piagam Permesta ke-69, tanggal 2 Maret 1957/2026, sebagai lahirnya ide-ide konsep pembangunan nasional, dibahas tuntas dalam “Diskusi Panel” yang berlangsung di Graha Pena Manado Post, di Jalan Babe Palar, Manado, Senin, 2 Maret 2026.

Diskusi ini bertujuan agar konsep pembangunan Soemitronomics dan Prabowonomics sebagai solusi menuju Indonesia Emas 2045. Diskusi menghadirkan para intelektual, sejarawan, budayawan, guru besar, para pelaku ekonomi dan pengusaha di Sulawesi Utara.

Piagam Permesta yang diproklamasikan pada tahun 1957 di Makassar, merupakan tonggak sejarah koreksi daerah terhadap kebijakan pembangunan nasional. Semangatnya menekankan pemerataan, keadilan ekonomi dan penguatan daerah, sebagai pilar kemajuan bangsa.

Konsep ekonomi ini dijabarkan jelas dalam diskusi panel, bahwa sejalan dengan itu, pemikiran Sumitro Djojohadikusumo tentang Ekonomi Benteng atau Sumitronomics dan visi ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang dikenal Prabowonomics, menjadi benang emas untuk memutus rantai kemiskinan dan mewujudkan Visi Indonesia Maju Untuk Indonesia Emas 2045.

Ketua Umum Majelis Keluarga Besar (MKB) Permesta Philip Pantouw, saat diskusi mengatakan Sumitro adalah Semangat dan Prabowo dalam Gerakan. Menurutnya tema ini dikemukakan, bukan sekedar gambaran, bahwa Prof Sumitro Djojohadikusumo adalah tokoh nasional yang melanjutkan Indonesia menuju Indonesia emas.

“Kita harus mendukung kenyataan sejarah ini. Terjadi ketidakpuasan bahwa pemikiran beliau, bertentangan dengan pemerintah saat itu (orde lama). Sedangan paham Sumitro adalah menuju pasar terbuka, untuk mencapai Indonesia Emas,” kata Philip, dan menambahkan pemikiran yang sama dilakukan Tiongkok sehingga bisa berkembang sampai saat ini. “Ternyata pemikiran Prof Sumitro benar,” tegasnya.

Lanjutnya bahwa konsepsi Permesta adalah pokok pikiran Prof Sumitro yang tertuang dalam piagam Permesta. “Jadi Permesta adalah langkah pertama untuk mewujudkan konsep pemikirannya. Ini benang emas. Pertama Permesta hanya melakukan tindakan politik yang dituangkan dalam piagam Permesta. Diajukan ke Bung Karno namun tidak ditanggapi serius. Malah langsung ditanggapi dengan penyerangan di Manado,” terangnya.

“Permesta hanya mengadakan pembelaan diri. Permesta bukan pemberontak. 69 tahun Permesta di distorsi dengan tidak kesesuaian,” terang Philip.

“Prabowonomics adalah tiruan pikiran yang diambil dari ide bapaknya (Sumitro). Ini menjabarkan apa yang diupayakan oleh Permesta dahulu. Ini harus diluruskan pandangan keliru. Saatnya kita meluruskan apa yang sebenarnya, pemesta tidak memberontak,” terangnya.

Apa yang diperjuangkan dalam piagam Permesta, akan dilanjutkan Presiden Prabowo. “Saatnya kita bangga. Kita bisa bersyukur bisa mendapatkan kesenangan untuk meluruskan Permesta. Hidup Permesta!,” tegasnya.

Sementara, Ketua Perhimpunan Tou Minahasa (PTM) Willy Rawung, dalam refleksi historis Sumitronomics yang disusunnya bersama Philip Pantouw, menjelaskan beberapa garis besar. Yakni program Benteng tahun 1950-1957, Piagam Semesta tanggal 2 Maret 1957, Trilogi Pembangunan pada 1968-1998 dan Prabowonomics di 2024-2045.

Menurut Rawung, Sumitronomics bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan manfaat pembangunan dan stabilitas nasional yang dinamis.

“Saya tidak terlibat langsung (Permesta). Kami menuliskan ini dengan sumber yang resmi. Tidak ada yang kami karang, kami kutip kalimat langsung. Dan namanya tulisan ada kekurangan, maka diskusi ini untuk melihat perspektif untuk diskusi, agar menambah pemahaman kami yang ditujukan untuk generasi muda atau yang menangkap salah dari sudut pandang lain,” tegas Rawung.

Lanjut Willy Rawung, Prabowonomics merupakan konsep pemikiran Prof Sumitro yang tercermin dalam rangkaian Program Benteng, Piagam Permesta serta Trilogi Pembangunan Orde Baru. “Kita memahami bahwa Prabowonomics yang merupakan Program Asta Cita Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran, menuju Indonesia Emas tahun 2045 tidak lain adalah titisan Sumitronomics yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masa kini,” ungkapnya.

“Dalam Prabowonomics, pertumbuhan ekonomi tinggi, kedaulatan ekonomi, intervensi negara dalam sektor vital, serta sinergi fiskal dan investasi untuk pemerataan, ini adalah untaian benang emas dalam Sumitronomics. Hilirisasi untuk memberi nilai tambah, MBG, Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, Koperasi Desa Merah Putih, Desa Nelayan, Swasembada Beras, Ketahanan Pangan, pemberantasan korupsi, Danantara, Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi seluruh masyarakat dan lainnya. Dan Prabowonomics memotong mata rantai kemiskinan ekstrem rakyat Indonesia,” tegas Rawung.

Hadir di diskusi juga Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemprov Sulut, Elvira Katuuk, yang menyampaikan beberapa hal. Elvira menyampaikan beberapa gambaran terkait Prabowonomics dan relevansinya dengan Permesta. Bahkan juga terkait relevansi Permesta terhadap kebijaksanaan pembangunan Sulawesi Utara yang tergambar dalam RPJMD 2025-2029. “Relevansi dibawah Gubernur ke RPJMD. Ketika Sulut ambil bagian menuju Indonesia Emas sampai pada Visi harus selaras pusat dan daerah,” kata Elvira.

“Selaras dengan Prabowonomics dibawah dalam visi Sulawesi Utara dengan 17 program unggulan yang akan dilakukan selama 5 tahun untuk menuju Sulawesi Utara yang maju, sejahtera dan Berkelanjutan, juga telah ditetapkan RKPD 2026 ini,” tambah Elvira Katuuk.

Kesimpulannya, menurut Elvira, secara historis semangat Permesta lahir dari tuntutan akan pemerataan pembangunan, keadilan pengelolaan sumber daya, serta penguatan otonomi daerah. “Pada saat ini, nilai-nilai perjuangan Permesta tersebut menjadi relevan sebagai landasan normatif dalam perumusan kebijakan pembangunan Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2025-2029,” tegasnya.

“Khususnya dalam mendorong kemandirian fiskal daerah, hilirisasi komoditas unggulan, pembangunan berbasis kewilayahan, serta transformasi ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan,” tambah Elvira lagi.

Sementara itu, Rektor Unsrat Prof Berty Sompie, yang hadir dalam diskusi, menyampaikan terkait Prabowonomics di era kepemimpinan Prabowo-Gibran. Ada poin yang ditegaskan, yakni Prabowonomics saat ini berfokus pada kesejahteraan rakyat dan ketahanan nasional, juga penguatan sektor strategis, hilirisasi industri dan kemandirian ekonomi, keadilan sosial berbasis ekonomi kerakyatan.

“Relevansi piagam dengan analisis Prabowonomics adalah semangat perjuangan semesta dalam konteks modern, kedaulatan ekonomi sebagai fondasi kesejahteraan, integrasi pertahanan dan ekonomi nasional,” kata Berty Sompie.

Menurut Sompie, Soemitronomics adalah proteksi dan nasionalisasi ekonomi dan Trilogi Pembangunan adalah tabilitas dan pertumbuhan. Jadi Prabowonomics adalah ketahanan dan kesejahteraan strategis. Kesamaannya pada kedaulatan dan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama.

Sompie berkesimpulan bahwa, Piagam Perjuangan Semesta memiliki relevansi lintas era dan menjadi benang emas kebijakan ekonomi nasional, transformasi strategi, dengan tujuan tetap pada kedaulatan
dan kesejahteraan bangsa. (*)




Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *