Perhimpunan Minahasa Raya

Mengapa Bursa Kita Kehilangan Kepercayaan Dunia?

 

Mengapa Bursa Kita Kehilangan Kepercayaan Dunia?

Oleh: Dr. Jusak Kereh
(Praktisi Hukum, Perbankan & Kebijakan Publik)

Sebagai seseorang yang telah menghabiskan waktu yang cukup lama menyelami dunia perbankan, hukum, dan kebijakan publik, intuisi saya sering kali menangkap sinyal bahaya yang luput dari pandangan mata telanjang. Di balik hijaunya angka IHSG beberapa bulan terakhir, tercium aroma “ketidakwajaran”. Ada ketidaksinkronan (disconnect) yang tajam antara harga saham yang terbang tinggi dengan fundamental pasar modal kita yang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Firasat ini bukan tebak-tebakan. Ini adalah kalkulasi rasional yang membawa saya pada kesimpulan pahit yang sempat saya sampaikan ke rekan-rekan sejawat Sabtu lalu (24/01):
“Pesta Pasar Modal BEI akan segera berakhir. Bersiaplah.”
Dan benar saja. Rabu kemarin (28/01), kita dihantam oleh apa yang disebut sebagian orang Black Swan Event—kejadian langka dan tak terduga—di mana pasar jatuh 6%-8% hingga perdagangan harus dihentikan paksa (Trading Halt).

UPDATE PENUTUPAN PASAR SORE INI (KAMIS, 29/01):
Harapan bahwa pasar akan membaik (rebound) hari ini pupus sudah. IHSG ditutup kembali merah membara. Upaya menahan indeks di pagi hari gagal total.
Apa artinya? Pasar mungkin sedang menghukum ketidakjujuran. Investor asing kabur dan melakukan jual bersih (Net Sell) triliunan rupiah hanya dalam dua hari. Ini bukan sekadar panik, ini adalah krisis kepercayaan (Trust Issue).

Mari kita bedah situasi ini dengan bahasa yang jujur dan lugas:

1. KARTU MERAH DARI SANG WASIT (MSCI)
Penyebab utamanya adalah keputusan MSCI (Morgan Stanley Capital International)—lembaga yang menjadi patokan dana-dana besar dunia—untuk membekukan indeks Indonesia.
Alasannya, karena terindikasi: Manipulasi Data Free Float.
Sederhananya begini: Saham yang laporannya disebut “milik publik/masyarakat”, ternyata dicurigai masih dikuasai oleh bandar atau pemilik lama menggunakan nama samaran (nominee). Ini menciptakan “Likuiditas Semu”—di kertas terlihat ramai, aslinya sepi.
Dampaknya: MSCI bilang, “Kami tidak percaya data kalian.” Akibatnya, investor asing (yang memegang 40-45% uang di pasar kita) tidak punya pilihan selain angkat kaki.

2. RESPON PEMADAM KEBAKARAN OJK & BEI
Sore ini, media seperti Bisnis Indonesia dan Kontan.co.id (29/01) melaporkan bahwa OJK dan BEI segera memanggil bos-bos emiten besar (Big Cap) untuk klarifikasi dan menjanjikan “Audit Kepatuhan” demi melobi MSCI.
Sebagai praktisi hukum dan pengamat kebijakan, saya melihat ini seperti “Pemadam Kebakaran”, bukan “Arsitek Bangunan”.
Langkah ini reaktif dan terlambat. Kenapa baru diaudit setelah diteriaki “maling” oleh dunia internasional? Kepercayaan global tidak bisa dibeli kembali hanya dengan rapat darurat satu malam. Kerusakannya sudah sistemik.

3. BAHAYA MENYEPELEKAN MASALAH
Di tengah badai Rabu lalu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pernyataan yang dikutip CNBC Indonesia dan Bloomberg Technoz:
“Ini kan masih shock… Biasanya 2-3 hari habis sudah. It’s a good time to buy.”
Statement ini pasti berniat menenangkan pasar, tapi di telinga analis, ini adalah simplifikasi yang berbahaya (Dangerous Simplification). Mengatakan masalah struktural ini akan lewat dalam “2-3 hari.” Bisa saja sebagian orang akan mengganggap bahwa sikap ini menunjukkan kurangnya sense of crisis.
Buktinya? Hari ini pasar masih hancur. Memberikan harapan kepada investor ritel muda agar “serok bawah” saat pisau sedang jatuh adalah tindakan yang bisa dianggap kurang bijak.

4. ANCAMAN TURUN KASTA (DEGRADASI)
Risiko terbesar kita bukan harga saham yang murah hari ini, tapi ancaman Degradasi Status.
Saat ini kita ada di Emerging Market (Liga Utama) bersama China dan India. Jika MSCI menurunkan kasta kita ke Frontier Market (Liga papan bawah), kita akan disetarakan dengan Vietnam atau Nigeria.
Apa bahayanya?
Dana Pensiun Global punya aturan hukum ketat: DILARANG investasi di negara Frontier. Jika kita turun kasta, secara otomatis (auto-sell) ribuan triliun dana mereka WAJIB keluar dari Indonesia.
Efeknya pada sektor riil: Bunga cicilan (KPR/Kendaraan) bisa naik, perusahaan susah ekspansi karena bunga kredit mahal, dan ujung-ujungnya: Lowongan kerja menyusut atau bahkan PHK.
Apa yang harus dilakukan sekarang?
Ya, jangan menangkap pisau yang sedang jatuh.
Biarkan regulator membereskan “piring kotor” ini dulu. Fokuslah amankan aset (Cash is King).
Meskipun langit sedang gelap, badai selalu menyisakan peluang. Minimal menunggu waktu yang tepat lagi. Krisis ini adalah tamparan keras yang diperlukan agar Regulator berbenah serius.
Saya kira Pasar sangat berharap regulator tidak hanya ber-aktion agar terlihat populis, tapi benar-benar merombak fondasi pengawasan pasar. Agar kelak, kita minimal kita tetap bermain di panggung Emerging Market dengan kepala tegak karena integritas.

JSK

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *