Perhimpunan Minahasa Raya

Teras Keraton Surakarta dan Kisah Cinta Raja Mataram dengan Penguasa Laut Selatan Kanjeng Ratu Kidul

Gambar: Teras Keraton Surakarta (Foto: Minahasaraya.com/Harris)

minahasaraya.com – Raja Keraton Surakarta Sri Susuhunan Pakubuwono XIII Tutup Usia, Minggu 2 November 2025. Teringat saat minahasaraya.com, mengunjungi Keraton Surakarta, beberapa waktu lalu, dan sempat mengambil foto dibeberapa tempat di Istana Keraton, beserta beberapa catatan cerita legendarisnya.

Salah satunya adalah cerita mengenai Teras Keraton (foto jurnalis minahasaraya.com didepan Teras Keraton).

Di Teras Keraton ini ada cerita mengenai tarian sakral pusaka Keraton yang dibawakan sembilan orang gadis yang masih perawan. Tarian ini ditampilkan di Pendapa Ageng atau di teras utama keraton saat raja duduk di singgasana pada upacara kenaikan takhta.

Tarian tersebut adalah bernama ‘Bedhaya Ketawang’. Tarian Bedhaya Ketawang hanya ditampilkan saat upacara adat tertentu, diantaranya dilakukan pada saat peringatan kenaikan tahkta raja (Tingalan Dalem Jumenengen Sunan).

Tarian ini dikenal sakral dan memiliki tingkat kesulitan serta kesakralan tertinggi di keraton. Dulunya, tarian ini tidak bisa sembarangan dilihat oleh masyarakat umum dan hanya dipentaskan di dalam lingkungan keraton untuk ritual kenegaraan.

Kisah legendaris dari tarian ini adalah menggambarkan kisah cinta dan hubungan spiritual antara raja-raja Mataram dengan penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Kidul (Ratu Kencana Sari).

Gerak-gerik tarian ‘Bedhaya Ketawang’ ini mewujudkan kelembutan, keagungan, dan hubungan asmara tersebut.

Dalam sejarah tarian ini dibawakan oleh sembilan penari perempuan muda yang belum menikah dan dipilih secara khusus. Angka sembilan melambangkan sembilan lubang dalam tubuh manusia yang emosinya harus dijaga.

Sebelum melakukan ritual menari, para penari harus menjalani persiapan khusus, termasuk latihan intensif dan puasa selama beberapa hari menjelang pertunjukan untuk menjaga kesucian diri.

Konon, saat latihan menari, Kanjeng Ratu Kidul akan datang jika gerakannya masih salah, sehingga secara sepintas akan kelihatan seperti ada 10 orang penari.

Sedangkan pakaian yang digunakan para penari adalah mengenakan busana pengantin Jawa kuno yang disebut Dodot Ageng atau Basahan. Tarian ini biasanya diiringi oleh Gending Ketawang Gedhe dengan laras pelog, menggunakan instrumen seperti kethuk, kenong, gong, kendhang, dan kemanak.

Untuk cerita tentang penari di teras Keraton Surakarta adalah merupakan tradisi tarian pusaka berusia ratusan tahun, yang sarat akan makna spiritual dan sejarah mendalam mengenai hubungan mistis antara penguasa dunia dan alam gaib. (hvs)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *