MENGAPA “MINAHASA” ?
Oleh: Willy H.Rawung
1. Jakarta, tahun 1967, 58 tahun lalu. Sebuah organisasi bernama Ikatan Pelajar Mahasiswa Minahasa di Jakarta (IPMMD) didirikan oleh para aktvis mahasiswa yang merantau melanjutkan kuliah di Jakarta. Antara lain Freddy Rorimpandey, Willy H Rawung, Otje Que Sumampouw, Charly Sondakh, Freddy Tumiwang, Freddy Saikat, Boy Saul, Ferdy Pandey, jurnaslis Kompas August Parengkuan, Jimmy Manese, Theo L Sambuaga, dan – menyusul bergabung – Berny Tamara, Kamang Rumambi, Rudy Sumampouw, dll.
Sebelum ke Jakarta sebagian akifvis bergabung dalam GSKI (Gerakan Siswa Kristen Indoesia) afiliasi Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan GSNI (Gerakan Siswa Nasional Indonesia) afiliasi Partai Nasional Inedonesia. Karena situasi politik masa itu, GSKI dan GSNI sempat berkonflik di Manado. Namun ketika merantau ke Jakarta para pemuda Tou Minahasa ini melakukan rekonsiliasi demi menata masa depan bersama yang lebih baik.
IPMMD sempat terlibat dalam aksi-aksi mahasiswa tingkat nasional yang berseberangan degan pemerintah Ode Baru, sebelum bergabung dalam KNPI.
Dalam peristiwa “Malari” (Malapetaka Lima Belas Januari), mengutip, majalah Tempo dalam Edisi Khusus Malari, 13 Januari 2014, para tahanan kebanyakan dibebaskan karena kurang bukti. Yap Thiam Hien dan Mochtar Lubis dilepas setelah setahun ditahan. Adnan Buyung Nasution dibebaskan pada Oktober 1975 bersama sebelas mahasiswa, di antaranya Judilherr Justam, Bambang Sulistomo, Eko Jatmiko, Theo Sambuaga, Yessy Moninca, dan Remy Leimena. Selain Theo, Berny Tamara pun sempat ditahan pada event yang berbeda, sebagai mahasiswa Universitas Jayabaya, ia dituduh mengedarkan brosur-brosur yang anti Orde Baru.
2. Setelah “berlatih” ikut mengkritisi Orde Baru, IPMMD kembali pada semangat awalnya, rekonsiliasi! Hasilnya, Drs. Theo L. Sambuaga (lahir 6 Juni 1949), menjadi Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto (14 Maret 1998 – 21 Mei 1998) dan Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Permukiman Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah Presiden B.J. Habibie (1998-1999. Bersejarah! Karena selama 32 tahun sebelumnya tidak seorang pun Tou Minahasa dipercaya duduk dalam Kabinet. Puteranya Dr. Jerry Sambuaga (Lahir 2 Juli, 1985) diangkat sebagai Wakil Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Maju dibawah Presiden Jokowi, 23 Oktober 2019 – Oktober 2024. Berny Tamara sendiri menjadi anggota DPR-RI 1998-2002, dan Freddy Rorimpandey menjadi Kanwil Dep. Perhubungan Sulawesi Utara.
3. 27 tahun lalu, dalam artikel menyambut Menaker Theo L Sambuaga (Manado Post, 23 Maret 1998), saya menulis a.l. “…. anak kampung Mahakeret Barat, Manado ini … tidak akan pernah berupaya “menyembunyikan” wujud kekawanuaan dalam keindonesiaannya dalam menapak karir. Sebab ia berasal dari suatu generasi yang unik dalam sejarah kekawanuaan. Generasi yang berusia SD saat meletus pergolakan Permesta ini penuh percaya diri terhadap wujud kekawanuaan, namun juga teramat sangat mencintai Indonesia.
Generasi yang konsisten menggali dan melestarikan tradisi adat dan budaya Minahasa, kendati – praktis – mesti dipelajari sendiri berhubung generasi pendahulu “lupa” mewariskan. Generasi yang tidak ‘traumatis”, sehingga tidak pernah menguatirkan kekawanuaan akan menghambat perjalanan karir. Generasi yang sering meleceh petinggi Kawanua yang suka ‘berubah’ wujud menjadi “putra Solo”, “putra Makasar” atau “putra Bogor” demi menggapai jabatan tinggi. Generasi yang sering berkaca pada Sam Ratulangi: sosok cendekia modernis yang tetap mempertahankan kefasihan berbahasa asli Minahasa sebab teramat sangat mencintai budaya leluhur. Generasi yang karena kesadaran sendiri mendirikan atau menjadi inspirator berbagai organisasi, yayasan, penerbitan, dan kegiatan-kegiatan lain-lain yang bersifat kekawanuaan.
Generasi yang memasuki dan memberi warna khusus pada KKK-Kerukunan Keluarga Kawanua, YKM-Yayasan Kebudayaan Minahasa, MKM-Majelis Kebudayaan Minahasa, sebagai bagian dari kesadaran perlunya “rekonsialisasi” dan konsolidasi antar generasi, antar Kawanua Asli dan Kawanua Kaart dan antar kekuatan sosial politik yang sempat terpecah berkeping-keping semasa Orde Lama, demi mewujudkan kehidupan lebih berkualitas dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Generasi yang tanpa sungkan menyuarakan “gubernur Sulut harus putra daerah” saat menyikapi pemberhentian Gubernur Willy Lasut G.A. beberapa tahun lalu Generasi yang tanpa gentar “turun ke jalan” memperjuangkan amanat penderitaan rakyat saat mengkritik Gubernur H.V. Worang pada zamannya.
Generasi yang membawa Maengket dan Musik Bambu dari “teater kintal” di kampung-kampung ke Balai Sidang Senayan untuk dipergelarkan secara profesional pada tahun 1980-an. Generasi yang dengan bangga berbusana baniang dan kabaya di perhelatan-perhelatan nasional maupun internasional. Generasi yang darinya masyarakat Kawanua dapat belajar dan meneladani, bagaimana menghayati tradisi keagaliteran dan kedemokratisan para leluhur dengan prinsip ‘perbedaaan pendapat tidak akan mampu merenggangkan persahabatan, memutus persaudaraan dan memusnahkan wujud kekawanuaan’ ; Sa Kita Esa Telu Kita, Sa Kita Telu Esa Kita. Dan kini, generasi ini pula lah – bersama adik-adiknya dari generasi kemudian – secara intens menggumuli betapa untuk mempertahankan perwujudan kekawanuaan dalam perwujudan keindonesiaan memasuki era kejagatan (globalisme), tou (manusia) Kawanua memerlukan Baku Beking Pande sebagai falsafah yang berakar pada budaya Minahasa”.
4. Pengalaman berekonsiliasi tidak berhenti menyuarakan desakan agar tokoh-tokoh “Permesta-NonPermesta” dan internal “tokoh-tokoh Permesta” sendiri segera melakukan hal yang sama dengan IPMMD. Karena secara kasat mata, “perpecahan” semasa “pergolakan Permesta” belum berakhir. Bahkan pasca para tokoh “Permesta” sudah memperoleh amnesti dari Presiden Soekarno pun, rekonisiliasi tetap belum terjadi juga. Padahal rekonsiliasi mutlak diperlukan demi masa depan generasi mudaTou Minahasa, yang terdampak secara moril dan materil akibat pergolakan Permesta.
5. Syukurlah, pada tahun 1973, enam tahun setelah IPMMD didirikan, bersuara keras dan masif terutama di kalangan “ex Permesta”, ide rekonsiliasi terwujud. Dengan dibentuknya organiasai Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK), yang merupakan wadah rekonsialiasi antara tokoh-tokoh “ex Permesta” generasi tua, seperti Alex Evert Kawilarang, Herman Nicolas (Ventje) Sumual, Jan Walandouw, dll dengan tokoh-tokoh “nonPermesta” seperti Piet Ngantung, Dr. Gerald Paat dll, serta generasi muda diwakili IPMMD, KAPAK, dll. Pada awal pembentukan KKK, terjadi dialog intens antara para pemuda dengan generasi tua. Mempertanyakan, penggunaan “Kawanua” sebagai identitas, yang tidak dikenal dan tidak diketahui maknanya secara umum, bahkan tidak lazim digunakan luas di Tanah Minahas. Untuk sub-etnik Tountembuan misalnya, kata “Kawanua” tidak umum dikenal. Lebih dikenal “Karo’ong”, yang mempunyai kesamaan arti dengan “Kawanua”, yakni “sekampung”? Mengapa tidak menggunakan nama “Minahasa” saja yang jelas menunjuk pada nama suku, bukan nama wilayah, sebagaimana dilakukan suku-suku lain di Indonesia, dan juga telah dilakukan oleh IPMMD sebelumnya? Penjelasan dari generasi tua ketika itu adalah, masih adanya kekuatiran sentimen “sukuisme” dan diksi “pemberontak” jika menggunakan nama “Minahasa”. Mengingat keterkaitan tokoh-tokoh Minahasa dan Tou Minahasa secara luas dalam pergolakan “Permesta”. Bagi IPMMD, penjelasan ini beralasan dan dapat diterima, karena ketika itu beban psikologis ini telah membuat banyak birokrat dan tentara lebih memilih “Sulawesi Utara” sebagai asal usul, ketimbang dengan terang-terangan menyatakan “Minahasa” sebagai asal usul, yang dianggap dapat “merugikan” karirnya. Maka ketika dilakukan MPA I KKK, ketika merumuskan Anggara Dasar pertamanya, KKK dengan sadar menetapkan sebagai Pendiri/Anggota adalah organisasi/perkumpulan Roong/Wanua, Taranak, dan organisasi fungsional (IPMMD, KAPAK, dll.). Maka jadilah KKK semacam “federasi” yang keanggotaan dan kedaulatannya berada di tangan organisasi/perkumpulan.
6. Tahun 2024, sejarah Indonesia berubah dan memilih jalannya sendiri. Dengan berkat Tuhan, seorang keturunaan Tou Minahasa, Prabowo Subianto, terpilih menjadi Presiden Indonesia ke-8. Sebuah pencapaian tertinggi dalam sejarah. Dalam beberapa kesempatan resmi beliau menegaskan “….. prinsip keutamaan saya dalam berpolitik, saya ini setengah Minahasa, di Minahasa ada pepatah, kita semua basudara”. Bahkan ketika masih sebagai calon Presiden, saat berorasi dalam kampanye ‘Prabowo Menyapa Kampung Halaman’, dengan tegas beliau berkata, “…. saya Prabowo Subianto, setengah darah saya adalah darah Minahasa. Ibu saya lahir dan besar di Langowan”. Karena itu saya datang ke tempat leluhur saya hari ini, saya minta doa restu, minta dukungan saudara-saudara sekalian”. Bahwa bagi Tou Minahasa, integritas beliau sungguh membanggakan serta menjadi teladan dan panutan. Betapa beliau tidak pernah menyembunyikan dan melupakan leluhurnya, asal usul Ibunda yang Keturunan Tou Minahasa dari keluarga Sigar-Maengkom. Ibunda yang sejak usia dini telah mendidiknya dengan menanamkan nilai-nilai kehidupan. Beliau tidak pernah menggunakan diksi “Kawanua” tetapi “setengah darah saya Minahasa”!
7. Sejalan dengan prinsip dan pengakuan Presiden Prabowo Subianto tentang asal usul beliau sebagai Keturunan Tou Minahasa, maka pada pada tanggal 16 April 2025, Willy Hendrik Rawung, Philip Paulus Pantouw, Patris Rumbayan, Ayub Dwi Pranata Junus, Greetty Tielman Iskandar, Grace Netty Tielman, Rudolf Jaffet Sumampow, Moudy Lintuuran-Pattynama, Tedy Adolf Matheos, Rita Fauziah Tendean, dan Eliana A. Taliwongso, mendeklarasikan berdirinya perkumpulan “Perhimpunan Tou Minahasa” (PTM), atau “Tou Minahasa Association”. Berbadan Hukum Akta Notaris Natalia Christine Rambing S.H.,M.KN, Nomor 04 Tanggal 23 Juli 2025, dan disahkan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Mansia R.I. Nomor AHU-0005887. AH.01.07.Tahun 2025 tanggal 14 Agustus 2025.
8. Dengan prinsip ini, Perhimpunan Tou Minahasa menetap ke depan, sejalan dengan para pemudi Johana Nanap Tumbuan, Dien Pantouw, Monni Tumbel, ketika menghadiri perhelatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dengan bangga mewakili Jong Minahasa. Sama pula dengan Sam Ratulangi dengan partai Persatuan Minahasa (1927), yang falsafahnya Si Tou Timou Tumou Tou (Manusia Hidup untuk Menghidupkan Sesama) dipakai sebagai tag line Perhimpunan.
9. Perhimpunan Tou Minahasa mengemban Misi “Tou Minahasa ne Pakatuan wo Pakalawiren” yang bermakna “Tou Minahasa sejahtera dan bermartabat”, dengan Misi Pengembangan Sumber Daya Manusia melalui: Pembangunan Ekonomi Berbasis Mapalus; Pemajuan Kebudayaan Minahasa; Advokasi kebijakan publik yang inklusif; serta Memperkuat jejaring diaspora global. Plus, target jangka pendek : Pelatihan Vokasi yang berkomimen membangun identitas Tou Minahasa yang kuat, inklusif, dan diakui secara global.
10. Pada tanggal 28 Oktober 2025 bertepatan 97 Tahun Sumpah Pemuda, bertempat di Gedung Djoang, Jl. Menteng Raya 31, Perhimpunan Tou Minahasa akan mengadakan Seminar “Peran Tou Minahasa dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928”, dilanjutkan memperkenalkan Kepengurusan, dan peluncurkan Website https://web.tou-minahasa.id sekaligus menandai dibukanya pendaftaran keanggotaan on line bagi Tou Minahasa dan keturunannya di seluruh dunia. (Willy H. Rawung)