Perhimpunan Minahasa Raya

Philip Pantouw Mengkritik Keras Tulisan Reiner Ointoe Soal Bantik dan Permesta

Foto: Philip Pantouw dan Reiner Ointoe (Kolase: minahasaraya.com/harris)

minahasaraya.com – Tulisan dan artikel Fiksiwan Reiner Ointoe soal Permesta dan Bantik Bukan Bagian dari Minahasa, mendapat kritikan pedas dari Tokoh Masyarakat Minahasa sekaligus Ketua Umum Majelis Keluarga Besar Permesta Philip Pantouw, dan Tokoh Masyarakat Pakasaan Bantik Ronny Mingisidi.

Karena itu Philip Pantouw menyesalkan adanya pertemuan Ketua Dewan Pembina DPP Bantik Masuinsau Sasengkoang (BMS) atau DPP Bantik Bersatu Perantauan, Donald Pokatong dengan Reiner Ointoe dalam diskusi “Minahasa, Sei Reen”, di Jakarta, Kamis.

” Sebetulnya Donald Pokatong tidak perlu bertemu Reiner Ointoe, karena hanya buang-buang waktu saja. Sebab saya beranggapan Reiner tidak tahu sejarah dan tidak tahu seluk beluk etnis Bantik sebagai bagian dari suku Minahasa,” kata Philip Pantouw, kepada minahasaraya, per telefon, Jumat 29 Agustus 2025.

“Saya mau katakan, Bantik berperan besar untuk Minahasa, hal ini dibuktikan oleh etnis Bantik yang pernah mengusir Raja Loloda sebagai Raja Bolango waktu itu, yang akan menguasai beberapa wilayah di Manado dan Tombulu Minahasa,” ungkap Philip.

Sehingga Philip Pantouw dan Rinny Mongisidi menegaskan, etnis Bantik sudah lama menjadi bagian dari kesepakatan masuk sebagai bangsa Minahasa. Philip dan Ronny Mongisidi juga menantang Reiner untuk berdebat soal pemahaman Bantik dan Permesta.

Sebelumnya Philip Pantouw mengkritik keras atas tulisan soal Permesta dari Reiner Ointou yang berjudul “Permesta: Sejarah Yang Kehilangan Momentum”, yang dimuat di facebook, 19 Agustus 2025.

Pada tulisan tersebut Reiner Ointoe hanya mengutip tulisan Sejarahwan Barbara S Harvey, yang mengatakan Permesta adalah pemberontakan tanpa komitmen penuh terhadap revolusi, tidak memiliki kejelasan idiologis dan mobilisasi massa yang diperlukan untuk mempertahankan gerakan separatis.

Reiner juga menyebut Permesta menjadi nostalgia setengah matang, dan ironisnya gerakan separuh hati ini kini ingin dijadikan momentum perjuangan lokal padahal denyut nadinya sudah lama berhenti berdetak.

Philip Pantouw menegaskan, Reiner Ointoe tidak tahu sejarah perjuangan Permesta yang sesungguhnya, namun hanya selalu mengutip tulisan Barbara S Harvey yang juga tidak memahami perjuangan Permesta.

“Karena itu sekali lagi saya menyesalkan adanya pertemuan beberapa Tokoh Masyarakat Minahasa yang bertemu Reiner Ointoe membahas soal Bantik. Menurut saya hanya mem buang-buang waktu saja, sebab saya menganggap Reiner tidak tahu sejarah, ” tambah Philip Pantouw.

Komentar Philip Pantouw ini dilakukan atas pertemuan Fiksiwan Reiner Ointoe dengan Ketua Dewan Pembina DPP Bantik Masuinsau Sasengkoang (BMS) atau DPP Bantik Bersatu Perantauan, Donald Pokatong, di Resto De Tuna, Rawasari, Jakarta, Kamis 28 Agustus 2025.

Pertemuan Reiner dan Pokatong tersebut terjadi dalam diskusi berjudul “Minahasa, Sei Reen”, selain dihadiri Reiner Ointoe dan Donald Pokatong juga dihadiri Seniman dan Sutradara Film Veldy Umbas, Akademisi/Peneliti BRIN Roy Massie, Sekretaris Yayasan Pengembangan Kebudayaan Minahasa (YPKM) Teddy Matheos, Cendekiawan Merdy Rumintjap dan Jurnalis Harris Vandersloot Laoh. (hvs)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *